WH.SUKABUMI — Sebuah tayangan video yang beredar luas di Facebook tengah memicu perdebatan publik. Dalam video berdurasi sekitar satu setengah menit itu, seorang pria yang dikenal sebagai konten kreator mengemukakan klaim mengejutkan bahwa sebuah gua di kawasan Cisolok, Kabupaten Sukabumi merupakan makam Sayidina Ali bin Abi Thalib.
Video yang diunggah pada Minggu, 13 April 2025, menampilkan suasana di sekitar gua yang disebut-sebut berada di wilayah Guha Naga, Kecamatan Palabuhanratu. Tayangan tersebut telah menuai banyak perhatian dengan ribuan komentar dan puluhan ribu kali dibagikan oleh warganet.
“Tempat ini disebut sebagai makom Sayidina Ali berdasarkan cerita dari penjaga lokasi. Tapi tidak banyak yang tahu,” kata pria dalam video itu. Ia juga menyebutkan bahwa menurut cerita, tokoh-tokoh besar seperti Wali Songo, Prabu Siliwangi, hingga Patih Gajah Mada pernah berkumpul di sana.
Berdasarkan penelusuran, kelokasi gua yang dimaksud berada di Kampung Cipanas, Desa Cikahuripan, Kecamatan Cisolok. Gua tersebut terletak di perbukitan tak jauh dari kawasan wisata air panas Cisolok.

Namun klaim tersebut mendapat bantahan keras dari Ustaz Yusuf Supriadi, tokoh masyarakat setempat yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Desa wangun sari.
“Cerita itu tidak memiliki dasar sejarah maupun spiritual. Ini murni buatan orang yang tidak bertanggung jawab,” ujar Yusuf, Kamis (17/4/2025).
Ia mengatakan bahwa gua itu memang sudah lama dikenal warga setempat, tetapi baru belakangan muncul narasi yang menyebutnya sebagai tempat keramat.
“Lokasi itu termasuk wilayah Perhutani. Sekarang dikuasai oleh seseorang bernama Kimli, keturunan warga dari Jakarta,” terangnya.
Yusuf menegaskan bahwa cerita gua ditemukan oleh Kimli adalah tidak benar. “Sebelum beliau datang, kami warga sudah lama tahu lokasi tersebut,” jelasnya.
Ia juga menyoroti soal klaim kepemilikan lahan hanya berdasarkan dokumen pajak. “SPPT itu bukan bukti hak milik. Dulu itu tanah negara,” lanjut Yusuf.
Menurutnya, tidak ada hal luar biasa dari gua tersebut. “Itu hanyalah gua biasa, bukan situs sejarah atau spiritual,” tegasnya.
Ia juga menyebut adanya aktivitas spiritual di lokasi tersebut dilakukan oleh warga keturunan selama puluhan tahun. Bahkan sempat dibangun tempat ibadah kecil di sana.
“Setelah orang itu sakit dan tak lagi aktif, muncul pihak lain yang menyebarkan cerita soal gua keramat dan karomah,” katanya.
Yusuf berharap pemerintah desa segera mengambil sikap atas beredarnya narasi yang menyesatkan.
“Kami minta Kepala Desa Cikahuripan, Jaro Midun, segera menutup aktivitas ritual di tempat itu karena bisa menimbulkan kesesatan,” tutup Yusuf. (Nanan apon)
editor : Ida











