WH.Sukabumi – Ironis. Di tengah kondisi bangunan sekolah yang rusak berat, para guru dan siswa di Kampung Gempol, Desa Cikadu, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, kembali beraktivitas di lokasi bekas bencana. Bukan tanpa alasan, keputusan nekat itu terpaksa diambil karena hingga kini belum ada solusi nyata dari pemerintah.

Guru RA sekaligus pimpinan Ponpes Miftahul Barokah, Lela Helmiah, menceritakan bahwa sebelumnya kegiatan belajar mengajar sempat dipindahkan ke tenda darurat selama tiga bulan. Namun, karena tenda kerap ambruk diterpa hujan dan angin, serta tidak adanya langkah tindak lanjut dari pihak berwenang, mereka terpaksa kembali ke gedung yang sudah retak-retak dan rawan ambruk.
“Kenapa kami kembali ke sini? Karena memang tidak ada solusi. Pemerintah hanya fokus relokasi warga, sementara untuk sekolah tidak ada kejelasan. Padahal anak-anak butuh tempat belajar yang aman. Kalau begini terus, siswa bisa semakin berkurang,” ungkap Lela, dengan nada kecewa.
Ia bahkan menuturkan bahwa sudah berupaya mencari bantuan hingga ke Bandung dengan menemui anggota dewan. Namun semua usaha berakhir tanpa hasil. “Sampai nginep di kursi pejabat pun tidak ada respon. Kami benar-benar dibiarkan berjuang sendiri,” katanya.
Guru lainnya, Usup Supriatman, juga mengaku hidup dalam ketakutan setiap kali masuk kelas. Atap bangunan sudah beberapa kali jatuh. “Kalau hujan, kami deg-degan. Murid sering kami suruh keluar kelas. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan lain. Tidak ada solusi dari pemerintah, sementara kontrak rumah pun harus bayar sendiri,” jelasnya.
Situasi ini membuat para guru, santri, dan siswa berada di persimpangan sulit. Di satu sisi mereka sadar risiko bangunan bisa ambruk sewaktu-waktu, namun di sisi lain mereka tidak punya tempat belajar lain.
“Harapan kami hanya satu, segera ada bangunan baru. Jangan sampai anak-anak kami terus belajar di bawah ancaman maut,” tegas Lela.
Kini warga Kampung Gempol menuntut pemerintah segera memberi langkah konkret, bukan sekadar janji relokasi tanpa realisasi. (Nanan apon)
editor : Ida











