“DESA AWILINAN GELAR PANEN JAGUNG BERSAMA POLRES BURU

banner 468x60

WH.Buru – Desa Awilinan, Kecamatan Air Buaya, Kabupaten Buru, Desa AWILINAN Gelar panen jagung pada tanggal delapan Januari dua ribu duapuluh enamkepala desa AWILINAN IBU DESA MALKA AZIZ .A.M.d. mengucapkan : desa AWILINAN menunjukkan potensi besar dalam pengembangan pertanian jagung bisa jadi andalan pangan, Dengan lahan yang memadai, tanah yang subur, dan semangat kerja masyarakat, pertanian jagung di desa ini diharapkan menjadi sumber penghidupan yang stabil bagi masyarakat.

Pertanian jagung di Desa Awilinan tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi dikelola secara berkelanjutan. “Kami terus membangun kerja sama dengan berbagai pihak untuk memastikan seluruh tahapan pertanian berjalan secara optimal,” kata seorang warga Desa Awilinan.

Masyarakat Desa Awilinan menerima bantuan bibit jagung sebanyak 168 kilogram dari jajaran kepolisian. Bantuan ini dinilai sangat membantu petani dalam mengembangkan jagung sebagai komoditas unggulan desa.

“Ke depan, pertanian jagung di Desa Awilinan diharapkan terus berkembang dengan penguatan kelembagaan petani serta pendampingan berkelanjutan,” kata seorang pejabat kepolisian.

Dengan pengelolaan yang tepat dan dukungan lintas pihak, Desa Awilinan berpeluang menjadi salah satu sentra produksi jagung yang berkontribusi terhadap ketahanan pangan Kabupaten Buru.tutur MALKA AZIZ.

Kemudian ketua Gapoktan SAMSUL ARIFIN menambahkan :
Keterbatasan Alsintan dan Sedimentasi Saluran Jadi Kendala Program Ketahanan Pangan Buru – Upaya penguatan program ketahanan pangan di wilayah desa masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait keterbatasan alat dan kondisi infrastruktur pendukung pertanian.

Hal tersebut disampaikan dalam pemaparan terkait usulan program pembukaan dan pengolahan lahan pertanian yang sebelumnya telah diajukan ke berbagai pihak.

Dijelaskan bahwa proposal program telah disampaikan kepada Dinas Provinsi, termasuk melalui pejabat terkait, serta juga diajukan kepada Kapolres. Usulan tersebut mencakup pembukaan lahan yang selama bertahun-tahun tidak dikelola akibat keterbatasan biaya dan sarana masyarakat. “Usulan yang kami sampaikan meliputi pembukaan lahan, bantuan bibit, hingga alat dan mesin pertanian (alsintan).

Selain itu, kami juga mengajukan bantuan untuk mendukung keberlanjutan kerja kelompok tani,” ujar perwakilan kelompok.
Saat ini, satu kelompok tani dipimpin oleh seorang ketua kelompok yang membawahi sekitar 20 orang anggota.

Namun, keterbatasan tenaga kerja menjadi tantangan tersendiri. Untuk pekerjaan tertentu, idealnya dibutuhkan sekitar enam orang dalam satu tim, namun kemampuan dan efisiensi kerja masih menjadi pertimbangan utama.

Selain alsintan, persoalan lain yang cukup krusial adalah kondisi saluran irigasi. Saluran air yang ada dinilai sebenarnya masih memadai, namun mengalami pendangkalan akibat sedimentasi.

“Masalah utamanya hanya pembersihan sedimentasi. Kalau tidak dibersihkan, air tidak mengalir lewat saluran, tetapi justru melewati badan jalan. Padahal jarak saluran dari sumber air hanya sekitar tiga sampai empat kilometer,” jelasnya. Terkait penanganan sedimentasi, disebutkan bahwa pengerjaan idealnya dilakukan secara manual karena struktur saluran yang sudah permanen.

Penggunaan alat berat atau alat mini seperti ekskavator kecil memungkinkan, namun tetap memerlukan operator yang sangat berpengalaman agar tidak merusak bangunan saluran.

Dari sisi koordinasi, komunikasi dengan pihak dinas terkait terus dilakukan. Namun, hingga kini masih menunggu kebijakan dan penetapan regulasi baru, termasuk penempatan pejabat teknis dan alokasi anggaran yang menjadi kewenangan pemerintah daerah.

“Kami sudah menyampaikan kebutuhan sarana dan prasarana, termasuk pembukaan lahan sekitar 80 hektare, bantuan pupuk, bibit, dan alat pertanian. Namun sampai sekarang masih menunggu kejelasan regulasi dan kebijakan anggaran,” tambahnya.

Sementara menunggu dukungan dari pemerintah daerah dan provinsi, pemerintah desa mengambil langkah awal dengan memanfaatkan Dana Desa. Program ketahanan pangan mulai dijalankan secara bertahap sejak masa pandemi COVID-19 hingga saat ini.
“Alhamdulillah, program awal bisa berjalan melalui Dana Desa.

Selain itu, kami juga mendapat bantuan bibit dari Kapolres sebanyak 60 kilogram, yang sangat membantu tahap awal penanaman,” ungkapnya.

Meski demikian, keterbatasan alsintan menjadi hambatan utama di lapangan, terutama saat menghadapi cuaca dengan curah hujan tinggi. Peralatan yang digunakan saat ini dinilai sudah tua dan kurang memadai untuk mendukung program berskala besar.

“Kami kewalahan karena alat yang digunakan sudah lama, sementara program yang dijalankan cukup besar. Kondisi cuaca juga tidak mendukung,” ujarnya.

Kedepan, pihak kelompok tani berharap adanya dukungan nyata berupa penambahan alsintan, pembersihan sedimentasi saluran irigasi, serta bantuan tenaga kerja dan alat panen.

“Harapan kami, dengan dukungan sarana dan prasarana yang memadai, pengelolaan lahan dan hasil pertanian ke depan bisa lebih maksimal dan berkelanjutan,”samsul tutupnya.

editor : Ida

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *