CEO Vale Bicara Masa Depan Nikel Hijau

banner 468x60

WH.Jogja – Isu transisi energi ternyata bukan lagi sekadar pembahasan soal kendaraan listrik atau pengurangan emisi karbon. Di balik itu, ada perebutan masa depan industri mineral kritis dunia, termasuk nikel Indonesia yang kini menjadi sorotan global.

Hal itu mengemuka dalam diskusi bersama Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto, dalam gelaran Jogja Financial Festival 2026. Dalam forum tersebut, Bernardus menyoroti tantangan besar industri pertambangan di tengah tuntutan dunia terhadap energi hijau.

Menurutnya, nikel kini memegang peran penting dalam rantai pasok kendaraan listrik dan baterai global. Namun di sisi lain, industri tambang juga menghadapi tekanan besar terkait isu lingkungan dan keberlanjutan.

“Tujuan transisi energi itu mulia, yakni memperbaiki kualitas hidup dan membantu mengatasi perubahan iklim. Tapi pertanyaannya, bagaimana kita memproduksi nikel secara bertanggung jawab,” ujarnya, dikutip Minggu (24/5/2026).

Bernardus menilai selama ini industri pertambangan kerap mendapatkan stigma negatif karena dianggap merusak lingkungan. Padahal, menurutnya, mineral tambang tetap menjadi tulang punggung peradaban modern, mulai dari pembangunan infrastruktur, pupuk pertanian, hingga teknologi energi baru.

Ia mengatakan tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan lagi sekadar meningkatkan produksi nikel, melainkan bagaimana mengubah cadangan besar yang dimiliki menjadi nilai tambah berkelanjutan bagi negara.

Pasalnya, lonjakan produksi nikel nasional dalam beberapa tahun terakhir juga memicu tekanan harga di pasar global. Kondisi ini membuat industri harus mulai berfokus pada kualitas produksi dan standar keberlanjutan.

“Nikel Indonesia harus bisa diterima dunia bukan hanya karena volumenya besar, tetapi karena diproduksi dengan cara yang bertanggung jawab,” kata Bernardus./dikutip Listrik Indonesia

Ia bahkan menegaskan bahwa tidak semua nikel memiliki kualitas keberlanjutan yang sama. Menurutnya, perbedaan utama terletak pada proses produksi dan jejak lingkungan yang ditinggalkan.

Dalam paparannya, Bernardus menyebut PT Vale Indonesia Tbk berupaya memosisikan diri sebagai produsen “sustainable nickel” atau nikel berkelanjutan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melakukan rehabilitasi hutan lebih besar dibanding area yang dibuka untuk tambang.

Ia mengklaim perusahaan telah melakukan penghijauan hingga tiga kali lipat dari area yang dibuka untuk kegiatan pertambangan.

Selain itu, perusahaan juga mengembangkan operasional rendah karbon melalui pemanfaatan pembangkit listrik tenaga air atau PLTA untuk mendukung fasilitas pengolahan nikel.

Bernardus mengingatkan, jika praktik pertambangan yang buruk terus terjadi dan memunculkan citra “dirty nickel” dari Indonesia, dunia bisa saja mulai mencari alternatif selain nikel.

“Kalau narasi negatif tentang nikel Indonesia semakin kuat, lama-lama orang bisa menjauh dari nikel dan mencari alternatif lain,” ujarnya.

Diskusi juga menyoroti peran generasi muda dalam era transisi energi. Bernardus menilai anak muda memiliki posisi penting untuk mengawal keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.

Menanggapi hal tersebut, Bernardus menekankan bahwa masa depan industri tambang harus dibangun dengan prinsip mitigasi dampak dan keberlanjutan jangka panjang.

“Jangan sampai keuntungan hari ini justru dibayar mahal oleh generasi berikutnya,” katanya.

Ia menilai transisi energi hijau tidak boleh hanya menjadi perpindahan sumber energi semata, tetapi juga harus dibarengi praktik industri yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.*(Dian)

editor : Ida

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *