Sekolah Amblas dan Retak, Murid di sukabumi Terpaksa Berdesakan di Tenda Darurat

banner 468x60

WH.Sukabumi – Sudah empat hari siswa di Kampung Gempol, RT 01/02, RW 07, Desa Cikadu, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, terpaksa belajar dalam tenda darurat. Dua tenda tersebut, masing-masing dari BNPB berukuran 6×8 meter dan Kementerian Sosial berukuran 5×6 meter, dijadikan ruang kelas darurat. Tenda BNPB digunakan oleh siswa Madrasah Tsanawiyah, sementara tenda dari Kemensos digunakan oleh siswa RA (Raudhatul Athfal).

Guru RA Raudhatul Athfal Miftahul Barokah, Lela Helmiah, mengungkapkan bahwa kegiatan belajar mengajar darurat ini sudah berlangsung selama seminggu sejak gedung sekolah mereka amblas. “Awalnya, setelah kejadian amblas, kami sempat menghentikan kegiatan belajar karena khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sekarang kami menggunakan tenda darurat untuk melanjutkan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar),” ujarnya, JUM.AT (10/1/2025).

Namun, kondisi belajar di tenda ini jauh dari nyaman. Guru-guru dan siswa harus menghadapi berbagai tantangan, seperti panas yang menyengat saat siang hari dan becek ketika hujan turun. “Rasanya gerah, capek juga karena harus bolak-balik. Kami tinggal di Sampora dan harus mengajar di sini dari pagi sampai sore. Ada banyak kelas yang disatukan dalam satu tenda, jadi kondisinya benar-benar sempit,” tambah Lela.

Lebih jauh, Lela menjelaskan bahwa dampak kerusakan akibat bencana ini tidak hanya menghancurkan ruang kelas. “Yang terdampak itu bukan hanya RA, tapi juga pondok pesantren putra-putri, lembaga MDTA, MTS, bahkan rumah saya sendiri. Sampai sekarang saya tinggal di rumah saudara bersama anak-anak,” ungkapnya.

” Ditempat yang sama siswa dan siswi, Belajar Jadi Tidak Nyaman Kondisi belajar darurat ini juga dirasakan berat oleh. Siti Maria, siswi kelas VIII, mengaku sedih dengan situasi ini. “Kalau panas, ya panas banget. Kalau hujan, becek. Harapannya, kami ingin cepat pulih dan bisa kembali belajar di ruang kelas seperti dulu. Di sini sempit, satu ruang dipakai tiga kelas,” katanya.

Siti juga menceritakan bahwa belajar dalam tenda saat hujan sangat tidak nyaman. “Pernah kemarin hujan, becek banget. Kalau panas, gerah. Jadi benar-benar gak enak,” ujarnya.

Harapan untuk Bangunan Baru
Lela dan masyarakat Desa Cikadu berharap pemerintah segera memberikan solusi dengan membangun kembali sekolah mereka. “Kami ingin ada bangunan baru secepatnya. Kalau dihitung kerugian, mungkin butuh dana sekitar dua miliar untuk mengganti semuanya. Kami hanya ingin anak-anak bisa belajar dengan nyaman lagi,” pungkas Lela. (Nanan apon)

editor : Ida

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *