WH.Sukabumi – Tidak mampu membayar biaya perawatan di rumah sakit, keluarga pasien miskin di RSUD Sekarwangi, Kabupaten Sukabumi, harus menghadapi situasi sulit. Setelah mengetahui jaminan BPJS Kesehatan mereka telah dinonaktifkan, pihak keluarga mengaku siap menjaminkan ginjal demi pengobatan anak mereka, Minggu (19/1/2024).
Masalah ini muncul ketika jaminan sosial dari BPJS yang sebelumnya aktif melalui program Universal Health Coverage (UHC) Pemerintah Daerah telah dicabut. Hal itu baru diketahui keluarga pasien saat mendaftar di RSUD Sekarwangi pada Jumat (17/1/2025). Akibatnya, pasien berusia 6 bulan berinisial AZH terpaksa didaftarkan sebagai pasien umum.
“BPJS atas nama AZH sudah tidak aktif, jadi pasien harus menjadi pasien umum,” ungkap salah satu petugas pendaftaran di RSUD Sekarwangi, Jumat (17/1).
Karena kondisi kesehatan AZH yang membutuhkan penanganan, keluarga pasien menyetujui prosedur sebagai pasien umum, sambil berharap BPJS dapat diaktifkan kembali.
“Saya sangat kaget saat tahu BPJS-nya sudah tidak aktif. Akhirnya, saya setuju AZH jadi pasien umum, dengan harapan BPJS-nya bisa kembali aktif sehingga biaya pengobatan dapat ditanggung,” ujar RDT (49), keluarga pasien, kepada awak media, Minggu (19/1).
“RDT menyebutkan, dirinya telah menghubungi Dinas Sosial Kabupaten Sukabumi agar status BPJS AZH bisa diaktifkan kembali. Namun, proses tersebut membutuhkan waktu hingga satu bulan.
“Kami akan bantu proses pengaktifan kembali. Tapi, untuk sementara, biaya pengobatan sekarang tidak ditanggung BPJS. Silakan koordinasi dengan pihak RS terkait pembiayaan,” jelas Iwan, Kepala Bidang Dinas Sosial Kabupaten Sukabumi melalui pesan singkat.
Dari pihak RSUD Sekarwangi, Ridwan, bagian keuangan, mengatakan bahwa keputusan terkait kebijakan pembayaran perawatan berada di tangan pimpinan rumah sakit.
“Silakan komunikasikan langsung dengan pimpinan RSUD Sekarwangi. Mungkin ada kebijakan terkait hal ini,” katanya.
Namun, ia menambahkan bahwa semua proses administrasi harus dilengkapi sesuai aturan rumah sakit.
“Saat ingin pulang, keluarga pasien bisa berkomunikasi dengan bagian kasir untuk menyampaikan permasalahan ini,” imbuhnya.
Merasa putus asa, RDT menyatakan kesiapannya untuk memberikan ginjal sebagai jaminan.
“Jika memang diperlukan, saya siap menjaminkan ginjal saya agar anak saya bisa dirawat,” ujarnya. (Nanan apon)
editor : Ida











