WH.Sukabumi – Bencana banjir dan longsor yang menerjang Kabupaten Sukabumi pada Kamis 6 Maret 2025 menelan sembilan korban jiwa.

Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana BNPB mencatat tujuh korban meninggal dunia sementara laporan dari Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan P2BK Simpenan menunjukkan jumlah lebih tinggi.
Menurut BNPB dua korban di Kecamatan Simpenan. Namun P2BK Simpenan mencatat jumlah korban di wilayahnya mencapai empat orang.
“Korban yang telah ditemukan di Kecamatan Simpenan adalah Nendi Saputra berusia tujuh tahun warga Kampung Cijangkar RT 22 RW 06 Desa Kertajaya. Yayar berusia 69 tahun warga Kampung Cijangkar RT 22 RW 06 Desa Cidadap. Ooy berusia 69 tahun warga Kampung Babakan Cisarua RT 02 RW 15 Desa Cidadap. Mondi berusia sembilan tahun warga Kampung Cijangkar RT 22 RW 06 Desa Kertajaya yang masih dalam pencarian.
Di Kecamatan Palabuhanratu dua korban yang sebelumnya dinyatakan hilang telah ditemukan. Mereka adalah Santi alias Zahra berusia 40 tahun dan anaknya Nurul berusia tiga tahun.
Jika mengacu pada data terbaru korban meninggal dunia di Kecamatan Lengkong berjumlah tiga orang di Simpenan empat orang dan di Palabuhanratu dua orang sehingga totalnya mencapai sembilan orang.
“Kepala BNPB Mayjen TNI Suharyanto menyatakan bahwa tim gabungan dari Basarnas TNI Polri dan relawan terus melakukan pencarian terhadap korban yang masih hilang.
Kami masih melakukan pencarian di beberapa titik terdampak. Prioritas saat ini adalah menemukan korban yang belum ditemukan ujarnya.
Selain korban jiwa banjir juga merusak infrastruktur termasuk satu jembatan utama di Cidadap yang saat ini dalam tahap perbaikan. Sebagai solusi sementara pemerintah akan memasang jembatan Bailey sementara pembangunan kembali jembatan permanen ditargetkan selesai setelah Hari Raya.
Di Palabuhanratu sekitar 200 rumah warga mengalami kerusakan mulai dari ringan hingga berat. Pemerintah Kabupaten Sukabumi bersama BNPB TNI dan Polri telah melakukan pendataan serta pembersihan material rumah yang terdampak.
Rumah yang rusak ringan akan mendapatkan bantuan Rp15 juta rusak sedang Rp30 juta dan rumah rusak berat akan dibangun kembali jelas Suharyanto.
“Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika BMKG memprediksi hujan ekstrem masih berpotensi terjadi pada 10 hingga 20 Maret. Untuk mengurangi dampak bencana pemerintah telah menyiapkan operasi modifikasi cuaca OMC.
Kami sudah berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah agar curah hujan tinggi tidak menyebabkan banjir lebih besar tambahnya.
Terkait relokasi warga di bantaran sungai BNPB menegaskan kesiapannya membangun hunian baru bagi masyarakat yang bersedia direlokasi.
Namun keputusan akhir tetap di tangan warga. Pemerintah Kabupaten Sukabumi akan terus melakukan sosialisasi agar masyarakat memahami pentingnya relokasi demi keselamatan mereka,”kata Suharyanto.
(Nanan apon)
editor : Ida











