WH.Sukabumi – Banjir bandang yang menerjang Kampung Bojong Kopo, Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi pada Kamis (6/3/2025) mengakibatkan kerusakan parah. Hingga kini, pihak BPBD maupun Pemerintah Daerah belum melakukan pendataan terkait dampak bencana ini.

“M.U Sobandi, salah satu tokoh masyarakat setempat, mengungkapkan bahwa masyarakat yang tidak terdampak banjir langsung bergerak menggalang donasi untuk membantu korban yang terdampak. “Kami sebagai tokoh masyarakat langsung bergerak cepat menggalang bantuan dari warga Bojong Kopo yang tidak terkena dampak. Kami juga meminta Kang Dedi untuk membantu warga kami,” ucap Sobandi dengan nada prihatin, rabu (12/3/2025).
Menurut Sobandi, banjir bandang tersebut telah menghancurkan empat rumah, tiga di antaranya berada di satu lokasi, dan satu rumah lainnya terpisah. Selain itu, ada empat unit motor yang turut terseret aliran sungai, serta satu pabrik penggilingan padi yang rusak berat. Bahkan, sebanyak delapan rumah mengalami kerusakan berat dan 40 rumah lainnya tidak dapat dihuni karena tertimbun lumpur tebal.
“Semua terseret aliran Sungai Cidadap. Banjir ini lebih parah dibandingkan dengan kejadian sebelumnya di Desember. Waktu itu tidak separah ini karena aliran sungai masih dalam, sekarang jadi dangkal akibat sedimentasi,” jelas Sobandi.
“Dia menambahkan, kejadian banjir besar serupa pernah terjadi pada tahun 1995 di mana seluruh Kampung Ciawi ambruk ke sungai. Namun, banjir kali ini dinilai jauh lebih parah karena kondisi sungai yang dangkal. Sobandi meminta pemerintah dari tingkat kabupaten, provinsi, hingga pusat agar segera melakukan normalisasi Sungai Cidadap serta pembangunan TPT (Tanggul Penahan Tanah) dari hulu hingga hilir.
“Kalau ini tidak dilakukan oleh pemerintah provinsi, sehebat apapun pembangunan jembatan yang dikerjakan oleh Kementerian PU, saya yakin tidak akan bertahan lama karena dangkalnya aliran Sungai Cidadap,” tegas Sobandi.
Sobandi juga menyayangkan ketidakhadiran Kang Dedi Mulyadi ke lokasi banjir. “Saya merasa prihatin, kenapa Kang Dedi tidak hadir ke sini padahal Bojong Kopo, Desa Loji ini juga basis pendukungnya. Kami harap Kang Dedi segera turun dan membantu normalisasi sungai ini,” katanya.
“Di tempat yang sama, Ningrum (39), warga Kampung Bojong Kopo yang menjadi korban banjir, menceritakan detik-detik mengerikan saat rumahnya terseret arus deras. “Waktu itu habis buka puasa, orang-orang pada tarawih. Saya di rumah bersama anak-anak. Tiba-tiba air besar datang dengan cepat,” ungkapnya.
Ningrum mencoba menyelamatkan anak-anaknya yang masih kecil dengan segera mengungsikan mereka ke tempat aman. Namun, rumahnya yang terdiri dari dua kamar, ruang tengah, dan dapur, akhirnya hilang terseret arus ke laut.
“Rumah, berkas-berkas, semua hilang. Tidak ada yang tersisa, yang saya pakai ini saja baju seadanya,” ujarnya.
Menurut Ningrum, hingga kini pendataan dari BPBD maupun pemerintah daerah belum dilakukan. Warga yang menjadi korban pun hanya bisa pasrah menunggu bantuan lebih lanjut.
Bantuan yang sudah diterima sejauh ini berasal dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Sekretariat Wakil Presiden Gibran, serta Dinas Sosial berupa sembako. Namun, warga berharap agar pemerintah lebih memperhatikan masalah utama, yaitu pendangkalan Sungai Cidadap.
“Kami berharap adanya koordinasi antara Pemda Sukabumi melalui PU dan Bina Marga Provinsi karena ini kewenangan provinsi. Kalau normalisasi sungai tidak segera dilakukan, jangan harap jembatan yang dibangun akan bertahan lama,” tegas Sobandi. (Nanan apon)
editor : Ida











