Tak Lagi Dibakar, Sampah Plastik Warga Kebonmanggu Kini Bernilai Ekonomi

banner 468x60

WH.​Sukabumi – Tumpukan karung berisi plastik, bungkus sabun, hingga limbah rumah tangga yang dulunya berakhir di pembakaran, kini memiliki nilai ekonomi baru bagi warga Desa Kebonmanggu, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi. Melalui program pemilahan sampah, warga kini dapat menukarkan limbah domestik mereka dengan kebutuhan pokok sehari-hari.

​Salah seorang warga, Een Rohaeni (70), mengaku antusias dengan program ini. Lansia tersebut tampak sumringah usai menimbang sampah plastik yang ia kumpulkan selama dua bulan terakhir.

​”Dapat 10,7 kilogram. Sampahnya plastik bekas sabun dan plastik hitam,” ujar Een, Jumat (1/5/2026).

​Alih-alih uang tunai, Een membawa pulang sabun dan perlengkapan rumah tangga lainnya. Meski nilainya tidak terlampau besar, yakni sekitar Rp 20.000 jika diuangkan, ia merasa sangat terbantu karena kebutuhan dapurnya terpenuhi tanpa harus mengeluarkan biaya.

​Sebelum program ini berjalan, Een dan warga lainnya tidak memiliki pilihan selain membakar sampah guna melenyapkan tumpukan limbah di area rumah. Namun kini, kesadaran mulai tumbuh. Hal senada diungkapkan oleh Hayati (60) yang berhasil mengumpulkan tiga karung sampah seberat 11 kilogram dalam satu bulan.
​”Yang dikumpulkan plastik, kertas, hingga kardus. Ditukar dengan sabun cuci piring dan pewangi lantai,” tutur Hayati.

​Kepala Desa Kebonmanggu, Rasnita Diharja, mengungkapkan bahwa perubahan perilaku ini merupakan titik balik bagi desa dengan populasi sekitar 5.800 jiwa tersebut. Saat ini, tingkat kesadaran warga dalam memilah sampah telah mencapai hampir 50 persen atau menyentuh angka 1.000 kepala keluarga.

​”Dulu pengelolaan sampah masih sederhana, bahkan banyak yang dibakar. Sekarang sudah terkoordinir melalui RT/RW dan Kadus. Kehadiran waste station menjadi solusi atas persoalan sampah yang selama ini seperti buah simalakama,” jelas Rasnita.

​Dari Limbah Menjadi Bahan Bakar Semen
​Program penukaran sampah ini merupakan bagian dari pengembangan waste station yang digagas oleh perusahaan semen PT Semen Jawa bersama pemerintah desa di lima wilayah sekitar.

​General Manager of Administration PT Semen Jawa, Indra Leksono, menjelaskan bahwa inisiatif ini bertujuan membangun kebiasaan memilah sampah dari sumbernya, mengingat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sudah mengalami over capacity.

​”Sampah non-organik yang terkumpul di waste station akan dikirim ke pabrik semen untuk diolah menjadi bahan bakar alternatif menggantikan batu bara,” kata Indra.

​Dalam prosesnya, sampah plastik dan kertas tersebut dicacah dan dicampur dengan biomassa untuk kemudian masuk ke dalam proses kiln (pembakaran utama) dalam produksi semen. Langkah ini merupakan bagian dari transformasi energi perusahaan.

​Indra menambahkan, perusahaan telah menggunakan Refuse Derived Fuel (RDF) sejak 2021 dan kini berhasil mencapai angka 30 persen dalam penggantian bahan bakar fosil. Kapasitas pengolahan RDF pun terus ditingkatkan, dari 180 ton per hari kini mencapai hampir 300 ton per hari.

​”Target pemerintah adalah 2060, namun kami menargetkan net zero emission pada 2050. Langkah-langkah kecil seperti kolaborasi dengan warga ini adalah bagian dari upaya tersebut,” tegas Indra.

​Sejak digulirkan pada 2022, total sampah non-organik yang berhasil dikumpulkan dari lima desa binaan telah mencapai sekitar 11 ton. Program ini membuktikan bahwa sinergi antara korporasi dan masyarakat mampu mengubah beban lingkungan menjadi manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian alam.

(Nanan apon)

editor : Ida

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *