WH.Sukabumi – Bibi dari Samson, Ema Purnamasari (43), warga Kampung Lambau Selagedang, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, mengungkapkan kisah terakhir keponakannya sebelum tewas dihakimi massa. Menurutnya, Samson sempat menginap dan makan di rumahnya sebelum kejadian tragis tersebut.

“Sebelum kejadian, dia sering pulang ke sini. Makan, minum, bahkan nginep di sini. Kemarin juga, setelah pulang dari Rumah Sakit Marzoeki Mahdi, dia sempat menginap. Terakhir kali datang, dia sempat makan dan menitipkan anaknya ke saya,” ujar Ema dengan suara bergetar, Sabtu (22/2/2025).
Ema menirukan pesan terakhir yang disampaikan Samson kepadanya. “Bi, titip anak. Sampai gimanapun, anak walaupun neneknya sendiri jangan dibawa, terkecuali sama Bibi. Sampai kapanpun, Bi, anak titip,” ucapnya.
Menurut Ema, sebelum kejadian, Samson sempat pergi ke masjid untuk salat. Ia juga berpesan agar Samson tidak membuat onar di lingkungan sekitar. “Saya bilang, jangan bikin onar di sini karena Bibi sayang. Kamu itu baru pulang dari rumah sakit,” tambahnya.
Setelah itu, suaminya sempat melihat ada keramaian di daerah Cihurang. Namun, Ema sendiri tidak mengetahui kejadian lebih lanjut hingga akhirnya mendapat kabar bahwa keponakannya telah meninggal dunia.
“Dalam pandangan keluarga, Samson dikenal sebagai sosok yang baik, meskipun terkadang membuat ulah di pasar dengan meminta-minta. Saya sempat dengar dan melihat sendiri dia bikin onar. Tapi kalau di lingkungan sini, dia tidak pernah punya masalah dengan warga, RT, atau RW,” jelasnya.
Ema juga membantah bahwa Samson sering berbuat onar di lingkungan tempat tinggalnya.
“Kalau dia sering berbuat onar, tentu bisa berdampak ke anaknya atau ke saya sendiri. Tapi ini tidak ada perilaku seperti itu. Dia sering ke masjid, sering salat, dan kalau punya rokok, suka berbagi dengan tetangga,” katanya.
Samson diketahui memiliki seorang anak berusia dua tahun enam bulan, sementara istrinya sudah bercerai sejak anak mereka lahir. Di sela pekerjaannya di laut, Samson tetap berusaha memenuhi kebutuhan anaknya.
“Kalau lagi ke laut, dia suka bantu-bantu dan bawa susu untuk anaknya. Walaupun segila-gilanya manusia, pasti ada sisi baiknya,” ungkap Ema sambil meneteskan air mata.
Ema mengaku sempat merasakan firasat sebelum kepergian Samson. “Bukan firasat atau mimpi, tapi dia sempat duduk di sini dan bilang ingin makan ikan goreng. Dia juga bilang, ‘Bi, pusing. Elan nggak tenang,'” kata Ema menirukan ucapan terakhir keponakannya.
Ia menambahkan, Samson sempat bersujud dan kembali menitipkan anaknya sebelum pergi. “Ucapan terakhirnya masih terngiang di kepala saya.
“Saya berharap pihak kepolisian segera memproses pelaku. Keponakan saya ini bukan hewan, tapi manusia. Ini tidak setimpal dengan perbuatannya. Saya minta hukum yang seadil-adilnya,” tutup Ema. (Nanan apon)
editor : Ida











