Jampang Creative Camp: Gerakan Kreatif Berbasis Alam dan Budaya Lokal di Ujung Genteng

banner 468x60

WH.Sukabumi – Gelaran Jampang Creative Camp yang berlangsung selama dua hari di Pantai Cibuaya, Ujung Genteng, Kabupaten Sukabumi, menjadi ruang aktualisasi generasi muda Pajampangan dalam merawat budaya lokal dan menjaga kelestarian alam.

Kegiatan ini digagas oleh komunitas Pakidoelan Eco Art atau Pakidoelan Lab sebagai bentuk keprihatinan terhadap minimnya ruang budaya di kawasan Jampang.

Ketua Pakidoelan Lab, S.
Sophiyah K., menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya sebatas pelatihan seni, budaya, dan bisnis kreatif, melainkan juga membawa semangat pelestarian lingkungan.

“Jampang Creative Camp adalah ruang belajar dan berkarya berbasis kesadaran lingkungan. Ini adalah inisiatif anak muda Pajampangan untuk menggali potensi lokal yang relevan dengan dinamika sosial masa kini, sekaligus membuka peluang ekonomi berkelanjutan,” tuturnya.

Konsep belajar dengan berkemah di alam terbuka menjadi pendekatan utama dalam kegiatan ini. Keanekaragaman geologi dan biodiversitas Pajampangan menjadi sumber inspirasi lahirnya semangat Mularasa Buana—yakni upaya menyalakan kembali nilai-nilai lokal sebagai jawaban atas tantangan global.

Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari masyarakat lokal. Denda, perwakilan Forum Masyarakat dan Nelayan Minajaya, menegaskan pentingnya kesadaran bersama dalam menjaga ekologi kawasan Pajampangan.

“Geopark itu bukan cuma Ciletuh. Cibuaya dan Minajaya juga masuk dalam kawasan Geopark. Harusnya kita sadar untuk menjaga lingkungan tanpa harus selalu diberitahu,” ujarnya.

Sementara itu, Beni Bunyamin atau yang akrab disapa Babab, seorang penggiat lingkungan, menyoroti pentingnya kesadaran hati dalam setiap gerakan pelestarian. “Kalau semuanya cuma berbasis proyek, bukan panggilan nurani atau jiwa, maka apa pun bentuknya akan hancur,” tegasnya.

Jampang Creative Camp hadir sebagai sinyal kuat bahwa kolaborasi lintas komunitas, generasi muda, dan warga lokal bisa melahirkan gerakan budaya yang berpijak pada akar lokal dan berpandangan global, Tambanya. (Nanan apon)

editor : Ida

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *