Jejak Wangsit di Bukit Loji Selatan Sukabumi

banner 468x60

WH.SUKABUMI – Di atas lereng curam yang menghadap langsung ke ombak ganas Samudera Hindia, berdiri sebuah tempat ibadah megah yang memancarkan aura mistis dan damai: Vihara Dewi Kwan Im, yang kini menjadi ikon spiritual sekaligus kebudayaan di selatan Sukabumi.

Di balik keanggunan arsitekturnya, tersimpan kisah luar biasa tentang seorang perempuan keturunan Thailand yang mengikuti panggilan batin untuk membangun tempat pemujaan Dewi Welas Asih di bumi Jawa bagian barat. Namanya Bunda Airin, yang konon mendapat wangsit untuk mendirikan vihara di pesisir selatan Jawa.

“Dulu beliau tinggal di Malang, sering berziarah ke berbagai wihara. Sampai suatu hari, beliau bilang dapat mimpi harus membangun tempat ibadah Dewi Kwan Im di daerah selatan,” ungkap Prabu (48), menantu sekaligus penerus Bunda Airin yang kini menjadi penjaga utama vihara tersebut.

Perjalanan spiritual itu sempat membawanya ke Parangtritis, tapi lokasi itu dianggap tak cocok secara spiritual. Baru ketika menginjakkan kaki di perbukitan Loji, Palabuhanratu, ia merasa yakin. Sebuah karang menyerupai Buddha tidur jadi pertanda yang menguatkan niatnya.

Tahun 2000, pembangunan dimulai. Patung utama Dewi Kwan Im dari perunggu didatangkan langsung dari Singapura. Sejak saat itu, satu per satu altar dibangun, mewakili berbagai sosok spiritual dari lintas budaya: mulai dari Dewi Kwan Im, Dewi Sri, Dewa Materya, hingga Prabu Siliwangi dan Nyi Roro Kidul.

“Vihara ini bukan cuma tempat ibadah umat Buddha. Ini rumah bagi nilai-nilai budaya, toleransi, dan penghormatan pada kearifan lokal,” kata Prabu.

Gaya bangunan menggabungkan unsur Thailand dengan sentuhan arsitektur Jawa Barat. Hal paling mencolok adalah naga raksasa berkepala tujuh yang menjulur dari kaki bukit ke gerbang utama, membentang sejauh 500 meter dan mengiringi pengunjung menaiki ratusan anak tangga menuju altar tertinggi.

“Ciri khas kami itu naga. Panjangnya luar biasa. Tangga ke atas itu hampir 500 anak tangga, dan tubuh naga memanjang di sampingnya, seperti penjaga spiritual,” tambahnya.

Prabu mengaku bersama warga sekitar merawat vihara ini dengan penuh dedikasi. Tidak hanya fisik bangunan, tapi juga atmosfer kesakralan dan semangat keberagaman yang ditinggalkan oleh pendirinya.

“Semua orang boleh datang. Tak peduli apa agamanya. Ini bukan soal ritual saja, tapi soal bagaimana hidup berdampingan dalam kedamaian,” ujarnya.

Kini, Vihara Dewi Kwan Im bukan sekadar tempat sembahyang. Ia menjadi saksi bagaimana spiritualitas, budaya, dan nilai kemanusiaan bisa menyatu indah di puncak bukit, tempat di mana suara angin laut membawa pesan damai bagi siapa saja yang datang. (Nanan apon)

editor : Ida

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *