Main Hakim Sendiri di Cikidang: Pelajar SMA Salah Sasaran, Diseret dan Babak Belur

banner 468x60

WH.Sukabumi – Jumat dini hari itu seharusnya hanya menjadi perjalanan singkat bagi M. Geri Selamat (16). Siswa kelas XI di salah satu SMA di Cikidang, Kabupaten Sukabumi, ini diminta ayahnya mengantarkan dompet yang tertinggal. Namun, tak sampai satu jam kemudian, ia justru tergeletak babak belur di depan masjid, dengan tangan terikat tali rafia dan tubuh penuh luka.

“Waktu itu saya lagi bawa dompet ayah. Di tengah jalan, tiba-tiba ada yang teriak maling. Saya kaget, lalu tiba-tiba dipepet mobil, dijegat, ditarik dari motor. Saya gak sempat jelasin apa-apa,” tutur Geri saat ditemui di rumahnya, Sabtu (9/8/2025).

Geri mengaku tak mengerti mengapa ia yang menjadi sasaran. Warga yang emosi langsung memukulinya tanpa memeriksa kebenaran tuduhan.

“Saya diseret sampai depan masjid, diikat. Rasanya sakit sekali, apalagi saya tahu saya nggak salah,” ujarnya pelan.

Kepala Dusun setempat, Ujang Muhammad Irpanudin (42), membenarkan Geri adalah warganya. Ia pertama kali mendapat kabar dari anggota BPD, lalu langsung menuju rumah korban. “Saya lihat kondisinya memprihatinkan. Karena bapaknya lagi kerja, saya yang mendampingi keluarganya untuk melapor ke Polres. Kami bawa pakai ambulans desa, dari BAP sampai visum selesai magrib,” kata Ujang.

Menurutnya, keluarga korban hanya menginginkan satu hal: keadilan. “Para pelaku harus diproses sesuai hukum. Itu harapan keluarga,” tegasnya.
Dari informasi Ujang, beberapa orang yang diduga terlibat sempat datang ke rumah korban, termasuk istri salah satu pelaku. “Katanya atas perintah suaminya untuk ikut mengawal pelaporan. Mungkin bentuk simpatik,” ujarnya.

Dukungan juga datang dari AI Fatimah (62), nenek korban, yang tampak terus mendampingi cucunya. Ia hanya berharap kejadian seperti ini tak terulang lagi.

“Di tempat yang sama Ahmad Munawar (52), guru SMP Geri, mengecam keras tindakan main hakim sendiri. “Prinsip praduga tak bersalah harus dikedepankan. Pukul memukul tidak bisa dibenarkan dalam situasi apapun,” ujarnya.

Menurutnya, Geri adalah anak yang tidak pernah bermasalah selama tiga tahun ia mengajar.
Ia berjanji akan mengawal kasus ini sampai tuntas. “Kalau dibiarkan, nanti akan ada Geri kedua, Geri ketiga. Itu tidak boleh terjadi,” tegasnya.

Kasus pengeroyokan ini kini dalam penyelidikan Polres Sukabumi. Polisi telah melakukan visum terhadap korban dan memeriksa lokasi kejadian untuk mengidentifikasi para pelaku.

(Nanan apon)

editor : Ida

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *