Tragis! Bocah 3 Tahun Meninggal dengan Tubuh Dipenuhi Cacing, Potret Gagalnya Layanan Kesehatan

banner 468x60

WH.Sukabumi – Kabar memilukan datang dari Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi. Seorang balita bernama Raya (3) meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan. Tubuhnya disebut dipenuhi cacing, sebuah kisah yang viral dan menyulut kemarahan publik.

Di rumah panggung sederhana, duka keluarga masih terasa. Tangisan sesekali pecah ketika nama bocah malang itu disebut. Hidup di tengah keterbatasan, Raya pergi terlalu cepat, tanpa sempat menikmati layanan kesehatan yang seharusnya dijamin negara.

Bibi korban, sarah (25),tak kuasa menahan air mata saat mengenang keponakannya. Ia menceritakan, Raya sempat dibawa ke klinik dan dokter anak. Namun diagnosa yang diterima hanya terkait gangguan paru.

“Dokternya bilang TB. Saya juga kaget waktu dikabari setelah meninggal ternyata banyak cacing di tubuhnya. Keluarga gak pernah tahu sebelumnya,” ujar Sarah, Senin (18/8/2025).

Sarah menegaskan, selama hidupnya Raya sering bermain di tanah dan jarang mendapat pengawasan kesehatan. Yang lebih menyedihkan, keluarga kecil itu bahkan tidak memiliki BPJS maupun dokumen kependudukan lengkap.
“Baru sekarang diajukan. Dari dulu gak punya apa-apa,” ucapnya lirih.

Kesaksian Sang Ibu: Perawatan Seadanya

Endah (30), ibu kandung Raya, hanya bisa duduk termenung. Meski kondisinya disebut terganggu secara psikis, ia berusaha menjawab pertanyaan wartawan.
“Dulu main di tanah terus. Kalau sakit ya cuma dimandiin air hangat, dikompres daun singkong. Belum pernah dibawa ke puskesmas,” kata Endah dengan suara pelan.

Raya akhirnya dijemput relawan Rumah Teduh untuk dibawa ke rumah sakit. Namun semuanya sudah terlambat. Bocah tiga tahun itu mengembuskan napas terakhir dengan kondisi perut dipenuhi cacing.

“Saya baru tahu dari relawan katanya ada cacing besar di dalam tubuhnya. Sedih sekali,” tambahnya.

Kematian Raya memunculkan pertanyaan besar mengenai peran pemerintah daerah Dalam menjamin kesehatan masyarakat miskin. Bagaimana mungkin seorang anak bisa meninggal karena penyakit cacingan di tengah gencarnya program kesehatan nasional?

Minimnya akses layanan kesehatan, ketiadaan identitas kependudukan, hingga ketidaktahuan keluarga terhadap puskesmas, mencerminkan kegagalan sistem perlindungan sosial.

“Ini jelas tamparan bagi pemerintah. Di Sukabumi, masih ada balita yang meninggal dalam kondisi penuh cacing. Padahal ada program gizi, ada posyandu, ada BPJS. Nyatanya tidak sampai ke masyarakat paling rentan,” ungkap salah satu warga.

Dimakamkan Sederhana

Raya kini beristirahat di sebuah makam kecil hanya 150 meter dari rumahnya, di tepi jalan raya yang ramai. Nisan sederhana di tanah merah itu menjadi saksi bisu betapa kerasnya hidup yang ia jalani sejak lahir hingga ajal menjemput.

Setiap kali debu beterbangan dari kendaraan yang melintas, pusara kecil itu seolah menegaskan masih banyak anak di negeri ini yang terabaikan. (Nanan apon)

editor : Ida

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *