WH.Sukabumi – Kasus meninggalnya Raya (3), balita asal Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, masih menyisakan banyak pertanyaan. Sisri Maryati, kader Posyandu sekaligus petugas desa yang selama ini mendampingi keluarga, mengungkapkan bahwa kondisi kesehatan Raya sebenarnya sudah terpantau sejak lama.
Menurut Sisri Maryati, sejak balita Raya rutin datang ke posyandu untuk ditimbang. Hasilnya, berat badan Raya selalu berada di bawah garis merah (BGM).
“Raya itu sering datang ke posyandu, jadi kita tahu kondisi berat badannya. Dari dulu memang termasuk BGM. Bahkan sudah pernah kita arahkan agar dirujuk ke puskesmas dan berkonsultasi dengan ahli gizi. Tapi jawabannya dari ibunya selalu sama, katanya bapaknya gak mengizinkan,” kata Sisri Maryati.
Karena status gizinya yang mengkhawatirkan, pihak desa bahkan memprioritaskan bantuan pangan bagi Raya. “Susu, telur, ayam, buah, semua diprioritaskan untuk Raya. Bahkan ada program PMT lokal 60 hari, Raya dapat itu. Waktu program berjalan sempat ada kenaikan berat badannya,” ujarnya.
Sisri Maryati juga menegaskan, semua balita termasuk Raya mendapat obat cacing secara rutin dari program pemeraintah. “Setiap enam bulan sekali ada pembagian obat cacing. Untuk Raya terakhir kali dapat di bulan Februari lalu. Jadi sebetulnya secara program sudah tercover,” jelasnya.
Namun, kenyataan pahit tetap terjadi. Setelah sakitnya makin parah, Raya akhirnya dibawa ke rumah sakit oleh relawan, bukan oleh pemerintah setempat.
Sisri Maryati mengaku baru mendapat kabar kondisi kritis Raya setelah relawan Rumah Teduh menghubunginya.
“Kami tahu setelah relawan memberi kabar bahwa Raya dibawa ke RSUD Bunut. Saat itu katanya tubuhnya penuh cacing, bahkan sudah keluar sekitar satu kilogram,” ungkapnya.
Meski sudah mendapat perhatian dari posyandu, kasus kematian Raya tetap menjadi pukulan telak. Menurut Sisri Maryati, dari catatan kesehatan, Raya memang sering mengeluhkan batuk, pilek, dan demam saat berobat ke dokter.
“Awalnya keluhan batuk, pilek, sama demam. Dokter puskesmas juga sudah menyarankan agar dibawa ke spesialis anak. Tapi ya itu, orang tuanya belum menindaklanjuti,” katanya. (Nanan apon)
editor : Ida











