Kapolresta Banyuwangi Pimpin Sinergi Lintas Sektor Hadapi Ancaman Bencana Hidrometeorologi, Antisipasi La Nina dan Puncak Musim Hujan

banner 468x60

WH.Banyuwangi — Dalam upaya menghadapi potensi bencana hidrometeorologi yang meningkat menjelang puncak musim hujan dan fenomena La Nina, Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rama Samtama Putra mengambil langkah strategis dengan memperkuat koordinasi lintas sektor. Melalui kolaborasi bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta sejumlah pemangku kepentingan daerah, Polresta Banyuwangi menggelar Apel Kesiapan Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi di halaman Mapolresta Banyuwangi.

Apel tersebut menjadi momentum penting untuk memastikan kesiapsiagaan seluruh unsur terkait dalam menghadapi ancaman bencana yang berpotensi meningkat akibat curah hujan tinggi di wilayah Kabupaten Banyuwangi. Kombes Pol Rama menegaskan bahwa sinergi lintas sektor merupakan kunci utama dalam mewujudkan deteksi dini titik-titik rawan bencana serta mempercepat respons penanganan bila terjadi kondisi darurat.

“Sinergi lintas sektor sangat penting untuk menjamin kecepatan dan ketepatan respons terhadap bencana. Mulai dari evakuasi, penyaluran bantuan, trauma healing, hingga percepatan pemulihan ekonomi bagi masyarakat terdampak harus berjalan selaras,” ujar Kombes Pol Rama Samtama Putra dalam amanatnya.

Lebih lanjut, Kapolresta Banyuwangi menekankan bahwa kesiapsiagaan ini bukan hanya tanggung jawab aparat keamanan, tetapi juga melibatkan seluruh elemen masyarakat dan instansi terkait. “Apel ini memperkuat koordinasi antara personel, sarana, dan prasarana agar seluruh elemen dapat sigap, cepat, dan tepat dalam memberikan respons terhadap situasi bencana untuk menjamin keselamatan warga Banyuwangi,” tambahnya.

Berdasarkan data BMKG, sekitar 43,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan. Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada November 2025 hingga Januari 2026, bersamaan dengan potensi kemunculan fenomena La Nina yang dapat berlangsung hingga Februari 2026. Fenomena ini berpotensi meningkatkan curah hujan di atas normal, sehingga memicu berbagai bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin puting beliung, dan gelombang tinggi di kawasan pesisir.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, Polresta Banyuwangi bersama Pemerintah Daerah dan BMKG melakukan deteksi dini terhadap wilayah-wilayah yang memiliki potensi tinggi terdampak bencana. Pendataan serta penguatan jalur evakuasi juga dilakukan untuk memastikan kesiapan masyarakat jika sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat.

“Kami terus berkoordinasi dengan seluruh pihak, termasuk TNI, BPBD, dan relawan, agar sistem peringatan dini berjalan optimal. Tujuan utamanya adalah keselamatan warga dan minimalisasi dampak kerugian akibat bencana,” jelas Kombes Pol Rama.

Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono, yang turut hadir dalam apel tersebut menegaskan bahwa penanggulangan bencana tidak hanya bertumpu pada peralatan dan sistem, tetapi juga pada kesiapan sumber daya manusia. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama BPBD terus menggencarkan kegiatan sosialisasi dan simulasi mitigasi bencana di daerah-daerah rawan.

“Keberhasilan penanganan bencana sangat bergantung pada sistem yang didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Karena itu, kami terus meningkatkan kapasitas dan kesadaran masyarakat melalui edukasi serta pelatihan rutin,” ungkap Mujiono.

Salah satu program unggulan yang dijalankan pemerintah daerah adalah Tagana Masuk Sekolah (Tamasa), yaitu program edukasi kesiapsiagaan bencana yang menyasar generasi muda. Melalui Tamasa, pelajar di berbagai sekolah diajarkan dasar-dasar mitigasi bencana serta langkah-langkah penyelamatan diri saat terjadi keadaan darurat.

“Anak-anak perlu dibekali pemahaman budaya siaga bencana sejak dini. Melalui Tamasa, kami ingin membentuk generasi yang tangguh, peduli lingkungan, dan siap menghadapi situasi darurat,” tambahnya.

Melalui kegiatan apel kesiapsiagaan dan langkah kolaboratif lintas sektor ini, Banyuwangi menunjukkan komitmen kuat dalam menghadapi ancaman bencana alam di musim penghujan. Dengan kesiapan personel gabungan, sistem peringatan dini, serta peningkatan kesadaran masyarakat, diharapkan risiko korban jiwa maupun kerugian materi dapat ditekan semaksimal mungkin.

“Upaya deteksi dini dan kesiapsiagaan ini menjadi bentuk tanggung jawab moral dan profesional kami dalam melindungi masyarakat. Sinergi antara aparat, pemerintah, dan masyarakat adalah kunci untuk mewujudkan Banyuwangi yang tangguh terhadap bencana,” pungkas Kombes Pol Rama Samtama Putra. (Ishaq)

editor : Ida

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *