WH.SUKABUMI – Sebuah pemandangan tak biasa terlihat di Kampung Babakan, Desa Mekarjaya, Kabupaten Sukabumi. Sejumlah siswa sekolah dasar menyuarakan kegelisahan mereka lewat cara sederhana namun sarat makna. Anak anak berseragam merah putih itu mengangkat poster berisi kritik tajam tentang kebutuhan mendesak di lingkungan mereka.

Tulisan pada poster tersebut menegaskan harapan mereka terhadap pemerintah agar lebih memprioritaskan pembangunan infrastruktur. Aksi itu mencerminkan realitas pahit yang mereka hadapi setiap hari saat berangkat sekolah.
Hasil penelusuran di lokasi pada Selasa (10/2/2026) menunjukkan poster tersebut kini dipasang di batang pohon jati di sisi jalan yang rusak berat, seakan menjadi pengingat bagi siapa pun yang melintas tentang kondisi darurat di wilayah tersebut.
Jalur yang harus dilalui para siswa berada di area tebing dan sebagian badan jalan telah tergerus longsor.
Permukaannya berubah menjadi lumpur tebal berwarna kemerahan, licin dan sulit dilalui, bahkan kendaraan bermotor tidak mampu melintas. Warga pun terpaksa berjalan kaki sambil menjaga keseimbangan agar tidak tergelincir ke jurang di tepi jalan.
Selain menyulitkan mobilitas warga, kerusakan ini juga berdampak pada aktivitas pendidikan. Anak anak kerap harus digendong oleh orang tua mereka demi bisa sampai ke sekolah dengan selamat.
Tokoh masyarakat setempat, Ustaz Syamsuloh (60), mengungkapkan bahwa jalan yang digunakan saat ini merupakan jalur darurat hasil swadaya warga setelah akses utama terputus akibat longsor.
“Motor sudah tidak bisa lewat sama sekali. Anak anak sekolah setiap hari harus digendong oleh orang tuanya. Bahkan yang ke sekolah diniyah juga sama, diantar dan dijemput dengan cara digendong,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Ia menuturkan, longsor besar yang terjadi pada Januari lalu dipicu curah hujan tinggi sehingga memutus akses penghubung Warungkiara Simpenan.
“Ini sebenarnya jalan pengganti yang dibuat warga semampunya. Mau bagaimana lagi, karena akses lama sudah putus total,” tambahnya.
Ketua RT 03/04 Kampung Babakan, Dedem, turut membenarkan bahwa foto protes para siswa diambil di ruas jalan tersebut.
Menurutnya, kondisi jalan membuat anak-anak tidak mampu melintas sendiri.
“Benar, itu anak anak yang tiap hari lewat sini. Jalannya becek dan berbahaya, jadi sering harus digendong ibunya supaya bisa sampai ke sekolah,” katanya.
Dedem menjelaskan, longsor di titik tersebut hampir selalu terjadi saat musim hujan. Kerja bakti warga yang berulang kali dilakukan sering kali tak bertahan lama karena tanah kembali runtuh setelah hujan deras.
“Setiap hujan besar pasti longsor lagi. Baru juga dirapikan warga, tertutup tanah lagi. Kejadiannya berulang,” ungkapnya.
Jalan berstatus milik pemerintah daerah itu menjadi akses vital bagi sekitar 50 siswa yang bersekolah di SD Sukamukti dengan jarak kurang lebih 200 meter dari permukiman warga. Meski kerusakan hanya sekitar 100 meter, dampaknya sangat terasa bagi kehidupan masyarakat.
“Kami berharap ada perhatian serius dari pemerintah. Walau pendek, jalan ini sangat menentukan aktivitas warga, terutama anak anak sekolah,” pungkas Dedem. (Nanan apon)
editor : Ida











