Aliansi BEM Bojonegoro Kecam Teror Terhadap Aktivis KontraS, Desak Kapolri Tangkap Aktor Intelektual

banner 468x60

WH.Bojonegoro -Gelombang solidaritas terhadap aktivis HAM terus mengalir dari berbagai daerah. Aliansi BEM se-Kabupaten Bojonegoro (ABB) secara resmi menyatakan sikap mengecam keras aksi penyiraman air keras yang menimpa Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, pada Kamis malam (12/3/2026) di Jakarta.

Insiden ini dipandang bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan ancaman nyata. terhadap kebebasan berpendapat dan upaya sistematis untuk membungkam suara kritis rakyat di jantung ibu kota.

Alarm Bahaya bagi Demokrasi

M. Yuda Fahrur Rozi, salah satu anggota Aliansi BEM Bojonegoro, menegaskan bahwa kekerasan terhadap pejuang HAM adalah bentuk kemunduran bagi iklim demokrasi di Indonesia. Menurutnya, aksi premanisme ini merupakan sinyal buruk bagi keamanan setiap warga negara yang berani menyuarakan kebenaran.

“Tindakan biadab ini adalah bentuk teror pengecut yang mencederai nilai kemanusiaan. Kami di Bojonegoro melihat ini sebagai alarm bahaya; negara harus hadir memberikan perlindungan bagi mereka yang kritis, sesuai amanat Undang-Undang,” ujar Yuda dalam penyampaian sikapnya, Minggu (15/3/2026).

Tuntutan Tegas kepada Kapolri dan Pemerintah

Dalam pernyataan sikap tersebut, Aliansi BEM Bojonegoro menyampaikan beberapa poin tuntutan krusial:

1. Pengusutan Tuntas: Mendesak Kapolri untuk segera menangkap pelaku serta mengungkap aktor intelektual di balik serangan ini secara transparan dan akuntabel tanpa intervensi pihak mana pun.
2. Menolak MILITERISME: Secara tegas menolak segala bentuk militerisme masuk ke ranah sipil.
3. Lawan Premanisme: Menolak segala bentuk intimidasi, baik fisik maupun digital, yang ditujukan untuk membungkam gerakan rakyat.

Ajakan Solidaritas

Aliansi BEM Bojonegoro juga mengajak seluruh elemen mahasiswa dan masyarakat di Bojonegoro untuk tidak gentar menghadapi ancaman teror dalam menyuarakan isu publik. Mereka berkomitmen untuk terus mengawal kasus ini hingga keadilan ditegakkan seadil-adilnya.

“Jika diam saat ketidakadilan terjadi, maka kita sedang memilih pihak penindas,” pungkas Yuda, mengutip poin penutup dalam pernyataan sikap tersebut.( Mpd)

editor : Ida

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *