Pemuda Cikakak Sukabumi Bangkit dari Keterbatasan, TikTok Ubah Jalan Hidupnya

banner 468x60

WH.SUKABUMI – Kesuksesan di media sosial tidak selalu hadir secara instan. Di balik popularitas siaran langsung TikTok yang kini diikuti ribuan orang, tersimpan kisah perjuangan panjang seorang pemuda asal Kabupaten Sukabumi, Muhamad Nana Abdilah atau yang akrab disapa Umi Ayoy.

Pemuda kelahiran April 2001 itu berasal dari Kampung Ciputat, Desa Sukamaju, Kecamatan Cikakak. Ia tumbuh dalam kondisi ekonomi yang sederhana dan sejak usia muda sudah terbiasa bekerja demi membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Sebelum dikenal sebagai kreator konten, Umi Ayoy sempat menempuh pendidikan di MA Assobariyah, kemudian melanjutkan sekolah ke SMA Baiturrahman saat memasuki kelas XI semester dua.

Di tengah keterbatasan, bakatnya di bidang keagamaan sudah terlihat sejak kecil. Ia aktif mengikuti berbagai perlombaan dan pernah meraih Juara I MTQ tingkat Kabupaten Sukabumi saat masih duduk di bangku SMP. Prestasi tersebut membawanya mewakili Sukabumi di tingkat Provinsi Jawa Barat dan berhasil menempati posisi enam besar.

Kemampuan membaca Al-Qur’an membuatnya kerap diundang menjadi qari dalam berbagai kegiatan keagamaan seperti pernikahan, khitanan, hingga acara masyarakat lainnya.

Namun kehidupan membawanya menempuh jalan yang tidak mudah. Demi bertahan hidup, Umi Ayoy mengaku telah mencoba banyak pekerjaan, mulai dari berdagang, membantu pekerjaan rumah tangga, membuat paving block dan batako, bekerja di tempat pencucian mobil, rumah makan ayam geprek, merawat anggrek, hingga mengamen di kawasan Sukasari, Bogor.

“Kalau dihitung mungkin hampir 20 jenis pekerjaan pernah saya jalani,” ujar Umi Ayoy.

Sebelum terjun ke dunia media sosial, pekerjaan terakhirnya adalah bekerja di sebuah bar di Bali. Saat merasa mulai memiliki penghasilan yang cukup stabil, cobaan berat datang. Ia mengalami kecelakaan yang menyebabkan kakinya patah dan harus menjalani masa pemulihan selama sekitar enam bulan.

Kondisi tersebut sempat membuatnya kehilangan semangat karena tidak bisa berjalan normal. Namun perlahan ia bangkit dan kembali bekerja setelah kesehatannya membaik.

Perubahan besar terjadi ketika ia pulang ke Sukabumi pada akhir April 2025. Saat itu, ia memutuskan untuk serius menekuni live streaming di TikTok. Pada awalnya hasil yang diperoleh belum signifikan, tetapi ia memilih untuk konsisten siaran setiap hari.

Usahanya mulai menunjukkan hasil setelah dua bulan berjalan. Penghasilan dari live TikTok meningkat tajam pada Juni dan Juli 2025.

‘Baru kali ini saya merasakan penghasilan sekitar Rp17 juta dalam satu bulan,” ungkapnya.

Dari penghasilan tersebut, ia sempat membeli sebuah mobil sebelum akhirnya menjualnya kembali. Kini, selain aktif sebagai kreator konten, ia juga mulai mengembangkan usaha kuliner tahu walik sebagai sumber pendapatan tambahan.

Meski kehidupannya berubah menjadi lebih baik, Umi Ayoy mengaku tidak ingin melupakan masa-masa sulit yang pernah dijalani. Baginya, pengalaman berpindah-pindah pekerjaan justru menjadi pelajaran penting tentang ketekunan dan rasa syukur.

Sebagian penghasilannya juga disisihkan untuk membangun majlis bagi anak-anak di kampungnya agar dapat belajar ilmu agama.

Menurutnya, tidak ada pekerjaan yang rendah selama dilakukan secara jujur. Ia meyakini kesempatan bisa datang dari mana saja bagi orang yang berani mencoba dan tidak mudah menyerah.

“Peluang bisa datang dari mana saja. Yang penting berani mencoba, konsisten, dan mau bangkit setiap kali gagal,” pungkasnya.(Nanan apon)

editor : Ida

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *