WH.Sukabumi – Sungai Cimandiri yang mengalir dari kaki Gunung Gede Pangrango hingga pesisir selatan Jawa menyimpan kisah mistis yang telah ada sejak ratusan tahun lalu. Legenda tentang buaya Cimandiri dipercaya masyarakat Sukabumi sebagai bagian dari kearifan lokal dan menjadi cerita turun-temurun yang masih dijaga hingga kini.
Menurut warga sekitar, buaya Cimandiri bukan sekadar binatang biasa. Buaya tersebut diyakini sebagai penjelmaan makhluk gaib atau sosok leluhur yang bertugas menjaga aliran sungai. Kepercayaan ini membuat masyarakat merasa perlu menghormati keberadaan buaya-buaya di Sungai Cimandiri untuk menghindari kejadian buruk.
“Di Cimandiri, kami mempercayai adanya buaya putih keramat yang dianggap sebagai penjaga sungai,” ujar Sulaeman (55), tokoh masyarakat setempat. Buaya putih ini, lanjutnya, dianggap sebagai pemimpin dari buaya-buaya lain dan memiliki kemampuan untuk memberikan pertanda. “Kalau ada yang melihat buaya putih, itu artinya ada pesan dari alam untuk menjaga kelestarian sungai ini,” imbuhnya.
Pada zaman kolonial Belanda, buaya-buaya Cimandiri juga menjadi kisah yang cukup dikenal di kalangan pekerja perkebunan. Banyak pekerja yang sering melihat buaya saat melintasi sungai atau mengambil air. Kisah ini semakin menguatkan legenda buaya Cimandiri sebagai makhluk keramat yang harus dihormati.
Selain itu, dalam berbagai kesempatan, masyarakat Sukabumi kerap mengadakan upacara adat di tepi Sungai Cimandiri sebagai bentuk penghormatan kepada buaya-buaya tersebut. Ritual “memberi makan” kepada buaya dilakukan untuk menjaga hubungan baik antara manusia dan alam, terutama dengan penjaga sungai tersebut.
“Upacara ini kami lakukan agar kami tetap bisa hidup berdampingan dengan alam. Bukan hanya karena takut, tetapi untuk menjaga keseimbangan dan menghormati apa yang sudah ada sejak leluhur kami,” ujar Hasan (60), salah satu tetua adat setempat.
(Nanan apon)
editor : Ida











