WH.Sukabumi – Ustad Yusuf Supriadi, seorang mantan kepala desa, telah menjadi ahli terapi fasdhu sejak tahun 2018. Fasdhu, metode pengobatan tradisional untuk membuang darah kotor, kini menjadi jalan hidup yang digelutinya setelah pensiun dari jabatan kepala desa.
“Ketika saya berhenti sebagai kepala desa, saya sudah memikirkan harus seperti apa ke depannya. Allah memberikan jalan untuk membuka praktik fasdhu, dan itu dimulai pada tahun 2018,” ujar Ustad Yusuf ketika diwawancarai.
Ketertarikannya pada terapi fasdhu berawal dari ajakan seorang kerabat di Jakarta untuk mengikuti pelatihan di Bogor. Pelatihnya adalah seorang profesional yang sering melakukan pelatihan di Mesir, Singapura, dan Malaysia. “Dia sangat profesional dan ilmunya bisa dipertanggungjawabkan,” kata Ustad Yusuf.
Untuk menjalankan terapi fasdhu, diperlukan keahlian khusus yang diperoleh melalui pelatihan intensif. “Kami belajar dengan serius dan diberikan sertifikat. Bahkan, saat membuka praktik, harus berada di bawah naungan yayasan. Alhamdulillah, saya memiliki yayasan sendiri,” tambahnya. Selain itu, praktik fasdhu ini telah mendapatkan izin dari dinas kesehatan dan pihak kepolisian.
Dalam tujuh tahun terakhir, Ustad Yusuf telah membantu banyak pasien melalui terapi fasdhu. Ia menjelaskan bahwa fasdhu bertujuan untuk membuang lemak dalam darah yang dapat menyebabkan berbagai penyakit, seperti kolesterol tinggi, darah tinggi, vertigo, hingga stroke.
“Fasdhu itu lebih cenderung membuang darah kotor, lemak, atau racun dalam darah yang sulit dibuang. Ini ikhtiar untuk memperlancar peredaran darah, terutama bagi penderita stroke baru,” jelasnya.
Menurut Ustad Yusuf, fasdhu tidak mengambil darah dari pembuluh arteri, tetapi dari darah yang mengalir balik ke arah jantung. “Ini untuk membersihkan darah kotor sebelum masuk ke ginjal dan jantung,” katanya.
Fasdhu juga memiliki dasar dalam syariat Islam. “Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk membuang darah kotor. Meski hadits terkait fasdhu masih diperdebatkan, praktik ini dapat menjadi alternatif selain bekam,” ungkapnya.
(Nanan apon)
editor : Ida











