WH.Sukabumi – Kabar duka datang dari Sri Erni (42), seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal Sukabumi yang meninggal dunia di Suriah. Kematian Sri Erni menyisakan tanda tanya besar bagi keluarganya. Jamilah (60), ibu angkat Sri Erni, mengungkapkan bahwa sebelum kematiannya, almarhum sering mengeluh karena mendapat perlakuan buruk dari majikannya di Suriah.
“Terakhir Sri Erni telepon sebelum meninggal, tapi sebelumnya dia sering nelpon kalau sering disiksa sama majikannya. Dipukul, makan juga dikasih sedikit meskipun sudah kerja berat,” ujar Jamilah sambil terisak saat diwawancara.
Jamilah bercerita bahwa sejak kecil Sri Erni sudah diasuh olehnya. Bahkan setelah menikah, Sri masih sering kembali ke rumah Jamilah bersama anak pertamanya.
“Dari kecil ikut saya, sampai menikah pun tinggal di rumah saya. Anaknya yang pertama saya urus dari lahir sampai kelas 5 SD,” ungkap Jamilah.
Namun, nasib malang menimpa anak pertama Sri Erni. Saat sakit, anaknya tak bisa segera mendapatkan perawatan medis karena tunggakan pembayaran BPJS. Jamilah akhirnya terpaksa menjual gelang emasnya demi melunasi tagihan BPJS, meski pada akhirnya nyawa sang anak tak tertolong.
“Saya jual gelang untuk bayar BPJS yang tiga juta, baru anaknya dikasih tindakan medis, tapi sayangnya sudah meninggal di rumah sakit,” tambahnya.
Jamilah berharap agar pemerintah segera memulangkan jenazah Sri Erni ke Indonesia. Selain itu, dia juga meminta agar hak-hak almarhum, termasuk gajinya, diberikan kepada keluarga, terutama untuk pendidikan anak-anak yang ditinggalkan.
“Saya mohon kepada pemerintah dan pihak berwenang, tolong jenazahnya segera dipulangkan. Kasihan, dia meninggalkan anak-anak yang masih kecil. Gajinya juga mohon diberikan kepada suaminya buat pendidikan anak-anaknya,” pinta Jamilah dengan haru.
Suami Sri Erni, Rizal Supriyadi, bekerja sebagai juru masak di Puncak. Robin Menurut Jamilah, Rizal sangat terpukul dengan kabar meninggalnya sang istri yang baru diterima setelah 8 bulan keberangkatan Sri Erni ke Suriah.
“Waktu saya kasih tahu ibunya meninggal, dia langsung jerit-jerit nangis. Dia bilang, sering disiksa sama majikannya yang perempuan, katanya galak sekali,” tutur Jamilah mengingat percakapan terakhirnya dengan Rizal.
Jamilah mengaku tidak mengetahui detail keberangkatan Sri Erni ke Suriah. Sebelumnya, Sri Erni memang pernah bekerja sebagai TKW di Arab Saudi selama dua tahun dan juga sempat bekerja di pabrik GSI selama enam tahun. Namun, keberangkatan terakhirnya ke Suriah tidak diketahui oleh keluarga secara jelas, termasuk siapa yang menjadi sponsornya.
“Kami tidak tahu siapa yang ajak dia ke sana,” ungkap Jamilah.
Menurut keluarga, mereka sudah menerima kabar dari KBRI tentang kematian Sri Erni. Namun, hingga saat ini, proses pemulangan jenazahnya masih belum jelas kapan akan dilakukan.
“Kata KBRI diusahakan, tapi belum ada kejelasan kapan jenazahnya dipulangkan,” pungkas Jamilah. (Nanan apon)
editor : Ida











