WH.SUKABUMI – Demi menuntut ilmu, sejumlah pelajar di Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, harus kembali mempertaruhkan nyawa menyeberangi sungai tanpa jembatan. Mereka terpaksa berenang melawan derasnya arus untuk sampai ke sekolah.

Budi Genda, salah satu warga setempat, mengungkapkan bahwa derasnya arus sungai ini pernah merenggut korban jiwa. Ia mengenang tragedi yang terjadi pada tahun 2006, ketika seorang ustaz bernama Solihin hanyut terbawa arus saat mencoba menyeberangi sungai yang tampak surut.
“Beliau saudara saya, Ustaz Solihin, waktu itu dari Pasir Pogor hendak ke Babakan Pendeuy. Tiba-tiba arus sungai membesar, dan beliau terseret hingga jasadnya ditemukan di pesisir laut. Beliau adalah pengelola pondok pesantren,” ujar Budi melalui sambungan telepon, Senin (6/1/2025).
Bukan hanya pelajar, ratusan warga setiap hari juga harus menyeberangi sungai untuk menjalankan aktivitas seperti ke kebun, sawah, atau pasar. Sungai ini menghubungkan dua kampung di Desa Loji dan Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan.
“Setiap pagi sekitar pukul 06.00 WIB, anak-anak sudah menyeberang untuk berangkat sekolah. Biasanya, jika orang tua belum ke kebun, mereka akan membantu menyeberangkan anak-anak. Pulangnya pun sama, harus menyeberangi sungai lagi,” jelasnya.
Budi menjelaskan bahwa kondisi ini diperparah setelah banjir besar pada 4 Desember 2024 lalu yang meluapkan sungai hingga mencapai ketinggian 4 meter. Akibatnya, jembatan penghubung yang baru selesai dibangun oleh relawan Sehati pada September 2024 ambruk diterjang arus deras.
“Jembatan itu sebelumnya dibangun oleh relawan, bukan pemerintah. Tapi sekarang sudah hancur lagi pasca-bencana Desember kemarin, sehingga para pelajar dan warga terpaksa menyeberang dengan cara lama,” imbuh Budi.
Ia berharap pemerintah segera membangun kembali jembatan yang kokoh agar aktivitas warga, termasuk pendidikan anak-anak, tidak lagi terganggu. “Kalau ada jembatan, akses ekonomi warga seperti ke pasar atau kebun juga akan hidup kembali,” pungkasnya. (Nanan apon)
editor : Ida











