WH.Sukabumi – Hujan ekstrem yang mengguyur Kampung Gumelar, RT 02 RW 22, Kelurahan Palabuhanratu, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, sejak Rabu (6/3/2025) hingga Kamis (7/3/2025), menyebabkan Sungai Cipalabuhan meluap. Derasnya arus menghancurkan sebuah kontrakan dan menyeret dua penghuninya, seorang ibu bernama Santi Zahra (40) dan anaknya, Nurul (3), yang hingga kini masih dalam pencarian.
Menurut keterangan saksi, air mulai naik dengan cepat pada Kamis malam sekitar pukul 21.00 WIB. Warga sempat mengingatkan Santi dan anaknya untuk mengungsi ke tempat lebih tinggi, namun mereka memilih bertahan di dalam kontrakan.
“Sebelum banjir besar, saya sudah bilang ayo kita mengungsi ke atas, tapi dia tidak mau. Lalu air makin tinggi, seperti ombak di laut. Tiba-tiba kami dengar teriakan minta tolong. Waktu ada yang berusaha mengambil tali tambang untuk menolong, kontrakan sudah hancur,” ujar andi ardiasyah 40.
“Dina 59 tetangga kontrakan mengonfirmasi bahwa arus deras Sungai Cipalabuhan merobohkan bangunan tempat tinggal Santi dan Nurul. Saksi terakhir melihat mereka berusaha bertahan dengan memegang jendela kontrakan, sebelum akhirnya bangunan tersebut ambruk tersapu banjir.
“Saat kejadian, air awalnya setinggi lutut, kami sudah mencoba menolong mereka keluar, tapi mereka menolak dan memilih bertahan di dalam.
Tiba-tiba dalam hitungan detik, air naik hingga se-dada. Saat itu mereka baru berteriak minta tolong, tapi kondisi sudah tidak memungkinkan untuk menolong karena arus terlalu deras,” ujar Andi Ardiansyah, salah satu saksi mata.
“Hingga Jumat (7/3/2025), tim SAR gabungan dari Basarnas, BPBD, masih berupaya mencari korban di sepanjang aliran sungai. Namun, pencarian terkendala banyaknya tumpukan sampah dan lumpur yang menghambat akses tim penyelamat.

“Kami mencurigai korban mungkin tertimbun di bawah tumpukan sampah. Sampai saat ini, kami terus berusaha menyisir lokasi ,” kata Suryo, Koordinator Basarnas Sukabumi. (Nanan apon)
editor : Ida











