WH.Sukabumi – SD Islam Banu Ahmadi yang berada di Kampung Ciawun, RT 01 RW 08, Desa Citarik, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, mengalami kerusakan parah setelah diterjang banjir pada 6 Maret 2025. Ironisnya, sekolah swasta yang sudah berdiri puluhan tahun ini belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah maupun pihak manapun.

“Neng Sari Kartika, salah satu guru Yayasan Banu Ahmadi, mengungkapkan bahwa sekolah ini dibangun dari hasil jerih payah almarhum Mbah K.H. Ahmad Hamidi yang menjual kebunnya demi mendirikan sarana pendidikan bagi masyarakat sekitar.
“Sejak berdiri sampai sekarang, belum pernah ada bantuan dari siapapun. Almarhum Mbah Kiai mendirikan sekolah ini dengan hasil menjual kebunnya. Jalan akses untuk mobil yang sekarang ada juga hasil dari pengorbanan beliau. Dulu, mobil tidak bisa masuk langsung ke yayasan,” kata Neng Sari Kartika, kamis (20/3/2025).
Ia menjelaskan bahwa pembangunan sekolah ini dilakukan dengan gotong royong oleh warga sekitar. Bahkan, tanah kosong yang ada di sekitar yayasan juga dihibahkan untuk membangun kelas.
“Dulu pembangunan sekolah ini benar-benar hasil gotong royong masyarakat. Tanah kosong juga dihibahkan untuk membangun kelas,” ujarnya.
Namun, kondisi bangunan sekolah saat ini sangat memprihatinkan. SD Islam Banu Ahmadi baru memiliki tiga lokal (ruangan) untuk kegiatan belajar mengajar. Selama ini, siswa-siswinya harus menumpang menggunakan ruangan Madrasah Diniyah (Diniyah) yang juga berjumlah tiga lokal.
“Anak-anak SD terpaksa belajar di ruangan Diniyah karena ruang kelas SD yang tersedia sangat terbatas. Dengan kondisi sekarang yang rusak parah akibat banjir, semakin sulit bagi mereka untuk belajar dengan nyaman,” tutur Neng Sari Kartika.
Yayasan Banu Ahmadi sendiri dikenal sebagai salah satu yayasan tertua di Palabuhanratu yang menyediakan berbagai layanan pendidikan dan keagamaan. Mulai dari MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah), RA/TK, SD Islam Banu Ahmadi, pondok pesantren putra-putri, hingga majlis ta’lim bagi bapak-bapak dan ibu-ibu. Selain itu, yayasan ini juga menampung anak-anak yatim dari sekitar yayasan.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah atau para dermawan yang mau membantu. Anak-anak di sini butuh tempat belajar yang aman dan nyaman,” pungkas Neng Sari Kartika. (Nanan apon)
editor : Ida











