WH.Sukabumi – Karya, seorang penyelam jamparing asal Kampung Tangkolo Desa Purwasedar, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, setiap hari mempertaruhkan nyawa demi menghidupi keluarga.
Ia rela berjalan kaki sejauh kurang lebih 500 meter ke tengah laut, hanya berbekal tombak dan semangat, demi mencari ikan dan gurita di perairan Ujung Genteng, tepatnya di sekitar Tenda Biru.

Uniknya, perjalanan dari daratan ke titik lokasi penyelaman dilakukan dengan berjalan kaki melewati air laut yang hanya setinggi pinggang. Namun, meski terlihat sepele, tantangannya luar biasa—ombak besar, batu karang tajam, dan arus bawah laut yang tak menentu.
“Kalau lagi pasang, ombak bisa tinggi, tapi tetap saya jalan kaki dari darat ke sana, sekitar 500 meteran,” ujar Karya saat ditemui, Rabu (28/5/2025).
Karya kini hidup seorang diri. Istrinya telah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Dari pernikahannya, ia dikaruniai dua anak laki-laki. Anak pertamanya, Muhyar, kini mengikuti jejaknya sebagai penyelam jamparing. Sementara anak bungsunya, Misbahudin, sudah bekerja di Jepang.
“Alhamdulillah Misbahudin sudah kerja di Jepang, bisa bantu kirim-kirim uang juga,” kata Karya dengan nada syukur.
Meski usianya tak lagi muda, Karya tetap bertahan sebagai penyelam tradisional. Ia tak memiliki peralatan modern apalagi perlindungan khusus. Semua dilakukan dengan keahlian dan pengalaman yang ia bangun sejak muda.
“Kerja begini sudah dari dulu, enggak punya pilihan lain. Kalau enggak nyelam, enggak makan,” ujarnya singkat.
Kisah Karya adalah potret nyata kegigihan masyarakat pesisir yang menggantungkan hidupnya dari laut. Di tengah bahaya dan kesederhanaan, mereka terus berjuang demi masa depan keluarga. (Nanan apon)
editor : Ida











