Normalisasi Sungai Ciranca Dikebut, Warga Gumelar Masih Menanti Tindakan Nyata

banner 468x60

WH.SUKABUMI – Upaya penanggulangan banjir di wilayah Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi mulai dijalankan. Pemerintah mengerjakan proyek normalisasi dua sungai, yaitu Ciranca dan Cipalabuhan.

Fokus utama saat ini diarahkan ke Sungai Ciranca yang kerap meluap saat hujan deras mengguyur kawasan tersebut.

Pantauan warta hukum pada Kamis (12/6/2025), sejumlah alat berat mulai beroperasi di aliran Sungai Ciranca.

Kedalaman sungai tampak sudah diperbesar, sementara sisi sungai diperkuat menggunakan tembok penahan tanah (TPT).

Meski begitu, masih ada beberapa titik yang belum tersentuh pengerjaan, seperti area bawah jembatan yang dipenuhi endapan batu, pasir, dan sampah rumah tangga.

Di salah satu lokasi, masih tampak pipa air yang membentang di tengah sungai, memperparah penyumbatan dan memicu penumpukan sampah.

Sejumlah warga terlihat menyaksikan proses pengerukan dari pinggir sungai, berharap banjir tak lagi menghantui rumah mereka.

Proyek ini dilaksanakan oleh CV Arshaka Gavrila Xavier dengan nilai kontrak sekitar Rp 2,5 miliar. Pengerukan dilakukan dengan kedalaman bervariasi, tergantung kontur sungai yang dibagi dalam beberapa segmen.

“Total panjang yang ditangani sekitar 2,3 kilometer, terbagi empat bagian. Sampai saat ini progres sudah mencapai 70 persen atau 1,8 kilometer,” kata Indra Faisal, penanggung jawab lapangan.

Indra menambahkan, selain mengeruk dasar sungai, pihaknya juga membangun tiga talud pengaman dengan tinggi antara 1,8 hingga 2,5 meter. Panjang keseluruhan talud diperkirakan mencapai 600 meter.

“Kontrak kerja lima bulan, tapi target kami rampung dua setengah bulan jika cuaca mendukung,” ucapnya optimistis.

Sementara itu, untuk Sungai Cipalabuhan, pengerjaan hanya dilakukan di wilayah hulu, tepatnya sekitar 300 meter di belakang kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Menurut Indra, rencana awal pengerjaan di bagian muara dibatalkan karena sudah tertangani dalam program darurat sebelumnya.

“Saat ini difokuskan ke bagian sebelum jembatan, agar aliran air lebih lancar,” ujar Indra.

Namun kondisi berbeda dirasakan oleh warga Kampung Gumelar. Meski proyek normalisasi telah berjalan di beberapa titik, mereka mengaku belum melihat tanda-tanda pengerjaan di wilayahnya, padahal lokasi ini merupakan salah satu yang terdampak paling parah saat banjir Maret lalu.

“Sejak banjir besar, kami bersihkan lingkungan pakai tenaga sendiri. Nggak ada alat berat datang ke sini,” kata Iman (41), warga setempat.

Iman menuturkan, dasar sungai di kampungnya kini sudah dipenuhi lumpur dan batu yang menumpuk. “Endapan di sini bisa sampai tiga meter. Kalau nggak segera dibersihkan, banjir kayak kemarin bisa terulang. Bahaya banget,” tegasnya.

Kampung Gumelar sempat menjadi sorotan nasional saat dikunjungi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Wakil Menteri PUPR. Namun, hingga kini belum ada alat berat yang masuk, meski pengukuran telah dilakukan lebih dari sebulan lalu.

(Nanan apon)

editor : Ida

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *