UNESCO Puji Ciletuh-Palabuhanratu: Cantik, Emosional, dan Sarat Kearifan Lokal

banner 468x60

WH.Sukabumi – Dua evaluator dari UNESCO Global Geopark, Bojan Režun asal Slovenia dan Zhang Chenggong dari China, menuntaskan misi revalidasi selama lima hari di kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Tak hanya membawa data teknis, mereka juga pulang dengan kesan mendalam tentang alam dan masyarakat lokal.

“Ini pengalaman yang sangat emosional. Alamnya indah, masyarakatnya hangat, dan saya mendapatkan kesan yang sangat positif selama berada di sini,” ujar Bojan saat sesi konferensi pers pada Kamis malam di hotel SBH (3/7/2025).

Ia menyebut atmosfer Indonesia, khususnya di Sukabumi, berbeda dari negara-negara Eropa. Dalam kunjungan ke berbagai titik geosite dan desa-desa di kawasan geopark, Bojan terkesan dengan upaya warga lokal yang menjaga harmoni antara pembangunan dan kelestarian.

“Kami melihat pembangunan yang tidak menabrak nilai-nilai budaya. Justru mendukung kekuatan komunitas,” tambahnya.

Sementara itu, Zhang Chenggong menggarisbawahi partisipasi aktif warga sebagai elemen vital dalam keberhasilan Geopark Ciletuh.

“Yang membuat geopark ini istimewa bukan hanya kekayaan geologinya, tapi bagaimana masyarakatnya ikut menjaga dan menghidupkannya,” ungkap Zhang.

Dari puluhan titik yang dikunjungi, Bojan menyoroti dua lokasi yang paling menyentuh hatinya: Desa Adat Sinarresmi dan salah satu sekolah di wilayah Surade.

“Desa ini hidup bersama alam. Saya tidak menyangka akan mendapat pengalaman spiritual dan emosional seperti ini. Keberlanjutan dan warisan budaya dijaga dengan sepenuh hati,” jelas Bojan.

Ia juga mengungkap kekaguman terhadap semangat edukasi di kawasan ini. “Anak-anak di sekolah itu tidak sekadar bermain. Mereka mengalami langsung apa itu geopark. Ini aset besar untuk masa depan, bukan hanya bagi Indonesia, tapi untuk dunia.

Senada, Zhang menyebut pendekatan pendidikan di kawasan ini sangat komprehensif. “Tak hanya formal di sekolah, tapi semangat edukatif terasa dalam interaksi masyarakat sehari-hari,” katanya.

Kunjungan revalidasi dimulai sejak 30 Juni 2025. Bojan dan Zhang tiba di Pendopo Sukabumi dan langsung menuju titik-titik strategis geopark, seperti Puncak Darma, Curug Sodong, Museum Konservasi, dan pusat edukasi geologi Unpad. Mereka juga meninjau pusat industri rakyat seperti Opak Ketan Jampang dan kawasan konservasi penyu Pangumbahan.

Pada 3 Juli, mereka melanjutkan perjalanan ke Gunung Sungging dan Museum Megalodon. Di hari yang sama, rombongan menyambangi SMPN 1 Surade dan Desa Wisata Hanjeli, lalu menutup kunjungan di Kampung Adat Sinarresmi yang dikenal sebagai simbol harmoni antara budaya dan alam.

UNESCO Tak Minta Banyak Proyek, Tapi Perkembangan Bermakna

Soal kondisi pascabencana dan perbaikan infrastruktur, Bojan menyebut bahwa UNESCO tidak menuntut pembangunan besar-besaran.
“Yang kami cari bukan proyek baru, tapi bagaimana proses berjalan, ide-ide berkembang, dan warga dilibatkan. Itu yang lebih penting,” tegasnya.

Ia menyadari masih ada tantangan, terutama di daerah yang terdampak longsor dan akses sulit. Namun ia melihat langkah pemulihan sudah berada di jalur yang benar.
“Pembangunan butuh proses. Tapi kalau pemerintah dan masyarakat bersinergi, hasilnya akan besar,” lanjut Bojan.

Selain kekayaan geologi, Bojan memuji potensi budaya yang dimiliki Sukabumi. Ia menilai banyak warisan budaya—baik yang kasat mata maupun yang tak terlihat—perlu terus dikembangkan dengan partisipasi aktif masyarakat.

Keduanya juga mengapresiasi kinerja panitia lokal selama proses revalidasi. Mereka menilai penyambutan, koordinasi, dan persiapan berjalan sangat profesional.

“Timnya solid. Semua elemen terlibat. Saya bisa bilang ini salah satu revalidasi terbaik yang pernah saya alami,” pungkas Bojan.

(Nanan apon)

editor : Ida

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *