Jembatan Kuning Bagbagan: Saksi Bisu Rodi dan Warisan Belanda di Sukabumi

banner 468x60

WH.Sukabumi – Di atas aliran Sungai Cimandiri, berdiri Jembatan Kuning Bagbagan yang kini mulai berkarat. Jembatan bersejarah di Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi ini dibangun sejak era kolonial Belanda, sekitar tahun 1914, dan diresmikan pada 1923 dengan nama Kabelbrug Tjimandiri.

Jembatan sepanjang 117,5 meter itu pernah menjadi jalur vital yang menghubungkan Palabuhanratu dengan Pajampangan. Pada masa kolonial, jalur tersebut penting sebagai akses distribusi hasil bumi, terutama komoditas gula. Struktur jembatan menggunakan sling baja, menjadikannya salah satu konstruksi modern pada masanya.

Namun di balik kejayaan teknologi Belanda, ada kisah kelam yang diwariskan. Pembangunan jembatan melibatkan tenaga rodi dari berbagai wilayah Sukabumi. Mereka dipaksa bekerja tanpa upah layak, bahkan banyak yang meninggal akibat kelelahan. Menurut cerita turun-temurun, beberapa jasad dikubur di sekitar pondasi jembatan sebagai “tumbal.”

“Kakek saya ikut kerja rodi di sini. Banyak yang tidak kuat, bahkan ada yang hilang dan tak pernah kembali,” ungkap EDEM BARONG(60), warga Cidadap, Sabtu (16/8/2025).

Jembatan Kuning sempat rusak diterjang banjir besar pada 2 November 1917, hingga akhirnya didesain ulang oleh Burgerlijke Openbare Werken (BOW) dengan konstruksi kabel sling baja. Biaya pembangunan kala itu menelan lebih dari 30.000 Gulden.

Kini, fungsinya sebagai jalur transportasi sudah tergantikan oleh jembatan baru di sampingnya. Kondisinya pun terbengkalai, besinya berkarat dan lantai kayunya rapuh. Padahal, banyak pihak menilai jembatan ini layak dijadikan cagar budaya dan ikon wisata sejarah Sukabumi.

“Jembatan Kuning ini saksi bisu penderitaan rakyat Sukabumi di masa kolonial. Pemerintah jangan sampai abai, karena nilai sejarahnya sangat besar,” kata edem,

pegiat komunitas Paguris.
Meski sudah dilakukan inspeksi teknis pada 2021 oleh Dinas PU dan Balai Jembatan, hingga kini belum ada langkah nyata revitalisasi. Sengketa lahan di sekitar jembatan juga membuat rencana pelestarian semakin tersendat.

Warisan sejarah yang lahir dari keringat dan darah rakyat itu kini terancam hilang ditelan waktu, menunggu keseriusan pemerintah untuk diselamatkan. (Nanan apon)

editor : Ida

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *