WH.Sukabumi – Akses jembatan yang putus di perbatasan Kecamatan Jampangkulon dan Waluran, Kabupaten Sukabumi, kembali memicu kejadian memilukan. Setelah warga Kampung Tanjung, Desa Tanjung, harus memikul jenazah menyeberangi Sungai Cikarang pada Selasa (19/8/2025), kini fakta baru terungkap: jembatan gantung itu ternyata sudah dua kali hancur diterjang banjir bandang.
Kepala Desa Tanjung, Dasep, saat dikonfirmasi lewat telepon WhatsApp, Kamis (21/8/2025), menceritakan kronologinya. Menurutnya, bencana pertama terjadi pada Desember 2024 ketika hujan turun hampir setiap hari. Saat itu, jembatan penghubung Tanjung–Cibungur hanyut diterjang banjir.
“Waktu bencana pertama, ada juga warga yang meninggal. Jenazahnya diangkut lewat jalur itu. Kondisinya lebih parah, cuma saat itu enggak ada yang merekam karena air sungainya betul-betul meluap,” kata Dasep.
Usai bencana tersebut, warga dari dua desa—Tanjung (Jampangkulon) dan Mekarmukti (Waluran) bergotong royong memperbaiki jembatan. Namun, upaya itu tak bertahan lama. Pada Maret 2025, banjir kembali menerjang dan menghancurkan jembatan yang baru selesai dibangun secara swadaya itu.
“Yang kedua itu hujannya memang cuma sehari semalam, tapi derasnya luar biasa. Jembatan enggak bisa dipakai lagi. Sejak itu, warga sudah enggak mampu gotong royong memperbaiki karena kerusakannya lebih parah,” jelasnya.
Menurut Dasep, keberadaan jembatan tersebut vital karena menjadi akses utama bukan hanya untuk pemakaman, tapi juga untuk sekolah, ekonomi, dan kesehatan. Warga Cibungur misalnya, bisa menempuh jarak 5 kilometer ke RSUD Jampangkulon jika lewat jembatan. Tanpa jembatan, mereka harus memutar sejauh 20 kilometer melalui jalur protokol Waluran.
“Kalau ke Puskesmas Waluran sekitar 7 kilometer lewat jembatan itu. Makanya ini sangat penting, karena jalur terdekat bagi dua kampung, dua desa, dan dua kecamatan,” tegasnya.
Dasep menambahkan, baru-baru ini komunitas relawan Jampang Peduli sempat membantu membangun jembatan darurat dengan batu bentang. Namun, akses itu hanya bisa dipakai sebagian, sementara jalur utama ke pemakaman umum di Kampung Cibungur tetap tak terhubung.
“Kemarin sore kejadian lagi, ada warga meninggal, terpaksa kami nyeberang sungai sambil memikul keranda. Karena memang TPU-nya di Kampung Cibungur, Desa Mekarmukti, dan tidak ada jalur alternatif lain,” ungkapnya.
Ia berharap pemerintah segera turun tangan membangun jembatan permanen sepanjang sekitar 50 meter agar warga tidak terus-menerus bertaruh nyawa”.tutupnya.
(Nanan apon)
editor : Ida











