WH.Surabaya – 25/08/2025 – Universitas Teknologi Surabaya (UTS) secara aktif berperan sebagai pendukung utama dalam penyelenggaraan Pameran dan Kontes Bonsai Lokal Se-Madura Raya 2025, yang diselenggarakan oleh Persatuan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Cabang Sumenep di Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, dari tanggal 20 hingga 25 Agustus 2025. Kehadirian UTS dalam kegiatan ini menandai komitmen kampus dalam menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara holistik, di mana pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi satu kesatuan yang saling mendukung dalam konteks keberlangsungan budaya dan ekonomi lokal.
Sebagai bentuk nyata pelaksanaan tri dharma, perwakilan UTS, Wahyu Fahmi Rizaldy, S.H., M.H., menyampaikan bahwa keikutsertaan ini bukan hanya sebagai dukungan simbolis, tetapi merupakan upaya strategis dalam mewujudkan pengabdian kepada masyarakat secara aktif. Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa dan dosen UTS untuk terlibat langsung dalam pengembangan nilai-nilai akademik di tengah realitas sosial dan budaya Madura, dengan penekanan pada prinsip learning by doing dan pembelajaran berbasis pengalaman nyata.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UTS, Ibu Aini Shalihah, S.H., M.H., menekankan bahwa kehadiran kampus dalam pameran bonsai ini merupakan langkah penting dalam mengintegrasikan pengetahuan akademik dengan kearifan lokal. Ia menyampaikan harapan bahwa mahasiswa yang terlibat dapat mengembangkan keterampilan sosial, kreativitas, serta kompetensi profesional melalui partisipasi langsung dalam kegiatan yang bernilai budaya dan lingkungan.
Pameran ini juga menjadi kesempatan strategis bagi UTS untuk melakukan sosialisasi keberadaan kampus kepada komunitas penggiat bonsai di wilayah Madura Raya. Melalui stan edukatif yang disiapkan, UTS memperkenalkan program studi yang relevan seperti Teknik Pertanian, Manajemen Lingkungan, Seni Rupa, serta Teknik Landscape—dengan peta program yang terintegrasi dengan peluang pengembangan ekonomi kreatif, konservasi vegetasi lokal, dan pertanian berkelanjutan.
Secara akademik, keberadaan seni bonsai sebagai bagian dari budaya Madura menarik perhatian dari berbagai disiplin ilmu. Ia merepresentasikan interaksi kompleks antara ekologi tanaman, konservasi sumber daya alam, seni estetika, dan kewirausahaan komunitas. Studi tentang teknik irigasi, pemupukan, pemangkasan, serta adaptasi varietas lokal terhadap kondisi tanah dan iklim Madura dapat menjadi dasar bagi penelitian kampus yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat.
Dukungan antarlembaga juga turut memperkuat keberhasilan acara ini. PPBI Cabang Sumenep telah mencatat pertumbuhan peserta yang konsisten dari tahun ke tahun, mencatat 65 peserta pada edisi 2025, yang menunjukkan tingkat kesadaran dan minat yang meningkat terhadap seni bonsai sebagai bentuk ekspresi budaya dan ekonomi lokal. Hal ini menjadi bukti bahwa budaya lokal dapat dikembangkan sebagai jaringan kekuatan sosial dan ekonomi berbasis komunitas.
Dengan kehadiran UTS, pameran ini pun mendapatkan dimensi akademik baru, di mana institusi pendidikan tinggi berperan sebagai fasilitator, penggerak, dan mitra strategis bagi komunitas budaya. Pengalaman ini menegaskan bahwa kampus bukan hanya lembaga pembelajaran, tetapi juga agen perubahan yang dapat membawa nilai-nilai keberlanjutan, inovasi, dan keberagaman budaya dalam satu wadah.
Tentu, tantangan tetap ada, seperti keterbatasan akses terhadap data teknis dan sumber daya dari panitia. Namun, dengan eksplorasi lebih lanjut, kegiatan ini dapat menjadi model community-based learning dan sustainable cultural production yang layak diteliti dan dijadikan studi kasus dalam kurikulum perguruan tinggi.

Secara keseluruhan, kehadiran Universitas Teknologi Surabaya dalam Pameran dan Kontes Bonsai Lokal Se-Madura Raya 2025 menjadi simbol sinergi antara akademik dan budaya, antara kampus dan masyarakat, antara seni dan teknologi—dengan visi yang sama: menciptakan masa depan yang lebih hijau, lebih berbudaya, dan lebih berkelanjutan. (WFR)
editor : Ida











