Heboh Video ‘Sandiwara’ Guru-Siswi di SMAN 1 Cicurug, Siswa Gelar Aksi Protes

banner 468x60

WH.Sukabumi – Sebuah video yang memperlihatkan seorang siswi SMAN 1 Cicurug diperlakukan seolah ditampar oleh gurunya menimbulkan kegaduhan. Rekaman itu awalnya dibuat sebagai drama buatan sang guru untuk menenangkan istrinya yang cemburu setelah melihat foto swafoto guru dengan siswi. Namun, setelah video tersebar luas, polemik pun mencuat hingga memicu aksi protes siswa di sekolah.

Kericuhan terjadi pada Senin (25/8/2025) pagi. Sejumlah pelajar berkumpul di halaman sekolah sambil membawa spanduk bertuliskan “Stop Kekerasan atas Nama Pendidikan”. Aksi ini juga sempat diunggah melalui akun Instagram resmi sekolah.
Sekretaris Kecamatan Cicurug, Anton Ardiansyah,
membenarkan adanya aksi tersebut.

“Benar, pagi tadi ada unjuk rasa siswa di lapangan sekolah. Satpol PP sudah turun, dan sekarang situasi kembali aman,” ujarnya kepada Wwartawan.

Anton menyebut para siswa menyoroti isu dugaan kekerasan yang viral di media sosial.

“Isu yang diangkat jelas, mereka menolak segala bentuk kekerasan,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Cicurug, Agus Hernawan, memberikan penjelasan terkait kronologi peristiwa yang memicu protes. Menurutnya, masalah bermula dari siswi yang meminta berfoto dengan salah satu guru. Foto tersebut kemudian diunggah ke media sosial hingga diketahui istri guru bersangkutan.

“Dari situlah terjadi salah paham. Guru yang bersangkutan lalu membuat video seakan sedang menegur keras siswi untuk meyakinkan istrinya,” terang agus.

Agus menegaskan, rekaman yang beredar hanyalah rekayasa belaka.

“Itu bukan kejadian nyata, melainkan sandiwara. Tidak ada penamparan sungguhan,” kata Agus menegaskan.

Ia menambahkan, permasalahan sudah sempat diselesaikan secara kekeluargaan antara pihak sekolah, guru, dan orang tua siswi. Bahkan, kata Agus, sudah dibuat surat pernyataan resmi.

“Semua sudah dibicarakan dengan keluarga. Ada bukti tertulisnya,” ungkapnya.

Meski begitu, Agus tidak menampik bahwa sebagian siswa tetap bereaksi dengan menggelar aksi protes.

“Anak-anak mungkin tidak semuanya tahu duduk persoalannya. Karena itu kita lakukan audiensi, aspirasi mereka kita tampung,” pungkasnya. (Nanan apon)

editor : Ida

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *