PEMKAB Janji Relokasi Tak Kunjung Nyata, Siswa TERPAKSA Kembali ke Sekolah Rusak

banner 468x60

WH.Sukabumi – Di tengah kondisi bangunan yang retak dan atap yang nyaris ambruk, aktivitas belajar di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Miftahul Barokah, Kampung Gempol, Desa Cikadu, Kecamatan Palabuhanratu.

Suasana belajar di sekolah ini jauh dari kata layak. Dinding penuh belahan, plafon menggantung dan sudah ada bagian yang jatuh. Kaca jendela pecah, meja kursi reyot, sementara udara lembap masuk membawa aroma tanah basah. Namun, puluhan siswa masih duduk di ruang kelas itu setiap pagi.

“Anak-anak terpaksa sekolah di sini karena memang tidak ada tempat lain,” ujar Lela Helmiah, pimpinan Ponpes sekaligus guru RA Miftahul Barokah, Senin (8/9/2025).

Lela tak bisa menyembunyikan rasa cemasnya. Musim hujan selalu menjadi momok. Ia khawatir dinding atau atap runtuh saat proses belajar berlangsung. “Deg-degan tiap kali hujan, bahkan kalau lagi kering pun takut ambruk,” tuturnya.

Sekolah ini sebelumnya sempat dipindahkan ke tenda darurat milik BNPB setelah pergerakan tanah Desember 2024 merusak puluhan rumah dan bangunan di Kampung Gempol. Namun, tenda darurat itu beberapa kali roboh diterpa hujan deras. Akhirnya, sejak Mei 2025 para siswa kembali ke ruang kelas lama yang kondisinya tak kalah berbahaya.

Usaha mencari bantuan pun sudah ditempuh. Lela mengaku pernah menemui anggota dewan hingga ke Bandung, tetapi tak ada jawaban. “Sampai tidur di kursi pejabat pun tidak ada hasilnya,” ucapnya.

Relokasi dari pemerintah sebenarnya sudah berjalan untuk warga terdampak di Kampung Pasirgoong. Namun, sekolah maupun pesantren tidak masuk ke dalam prioritas. “Untuk sekolah tidak ada bantuan relokasi. Kalau mau pindah, ya mandiri,” tambah Lela.

Dampaknya, jumlah siswa kian merosot. Di RA kini tersisa 35 murid, MTs hanya 57, dan santri pondok pesantren tinggal 59 orang. Aktivitas mengaji pun ikut terhenti karena bangunan pesantren tak lagi bisa dipakai.

“Kami hanya berharap ada bangunan baru yang lebih aman. Kalau kondisi tetap begini, siswa bisa makin mundur,” tegasnya.

Usup Supriatman, guru MTs Miftahul Barokah, juga mengaku waswas setiap kali mengajar. “Atap sudah ada yang jatuh, untung saat istirahat. Kalau jatuh saat pelajaran, bisa celaka,” ujarnya.

BNPB dan BPBD sebenarnya sudah merekomendasikan agar aktivitas belajar dihentikan karena berbahaya. Namun, tanpa solusi lain, sekolah ini tetap dipakai.
Setiap hari, di ruang kelas dengan kaca jendela retak, suara anak-anak tetap terdengar membaca pelajaran. Mereka bertahan, meski belajar di atas ancaman runtuhnya bangunan. (Nanan apon)

editor : Ida

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *