WH.HILA – HILA DI AMBANG KRISIS! Genderang perang perebutan kursi Raja Negeri Hila sudah ditabuh berkali-kali, namun apa yang terjadi? Keheningan yang mencekam! Dua kali pendaftaran dibuka, namun meja panitia tetap melompong seolah tak bertuan. Empat marga yang memegang hak sejarah kini seakan membisu seribu bahasa.
Apakah ini sebuah boikot massal, ataukah taring kekuasaan adat mulai tumpul dimakan zaman?
Situasi di Hila bukan sekadar urusan “suka atau tidak suka”. Ada aturan main yang kaku yang sedang dipertaruhkan. Berdasarkan hukum yang berlaku di Maluku, kebuntuan ini bisa menyeret Negeri Hila ke ranah hukum yang lebih rumit
UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa: Jelas mengamanatkan bahwa desa adat (Negeri) harus memiliki kepemimpinan yang sah agar roda pemerintahan, pembangunan, dan penyaluran dana desa tidak lumpuh.
Peraturan Daerah (Perda) Maluku Tengah No. 03 Tahun 2006 (dan perubahannya)
Tentang Tata Cara Pencalonan, Pemilihan, Pelantikan, dan Pemberhentian Kepala Pemerintah Negeri. Aturan ini menegaskan bahwa pendaftaran adalah wajib bagi mereka yang memiliki hak.
Ancaman “Penjabat” (Caretaker): Jika hingga batas waktu 12 Februari besok tetap kosong, maka berdasarkan PP No. 43 Tahun 2014, Pemerintah Daerah memiliki wewenang untuk menunjuk Penjabat Raja dari kalangan PNS. Ini adalah tamparan keras bagi adat, karena orang luar bisa masuk memimpin urusan internal Hila!
MENGAPA MEREKA DIAM?
Publik bertanya-tanya, apakah persyaratan dalam Perda yang mewajibkan ijazah minimal SMA, batasan usia, hingga SKCK menjadi penghalang? Ataukah kesucian adat sedang digadaikan demi ego internal masing-masing Mata Rumah?
”Hukum adat adalah ruh, tapi administrasi adalah raga. Jika raga tak sanggup berdiri, maka ruh akan kehilangan tempatnya.”
Jika empat marga ini gagal mengirimkan wakilnya, maka bersiaplah melihat Negeri Hila dipimpin oleh sosok yang ditunjuk “meja birokrasi”, bukan berdasarkan garis darah leluhur.

Esok, 12 Februari, adalah garis finish. Jika jarum jam melewati batas waktu tanpa satu pun berkas yang masuk, maka sejarah akan mencatat: Hila pernah kehilangan keberanian untuk memilih pemimpinnya sendiri.
AKANKAH ADA KEJAIBAN DI DETIK TERAKHIR? ATAUKAH HILA AKAN TERUS TERBELENGGU DALAM KETIDAKPASTIAN?
editor : Ida











