Akses Rusak dan Isu Bencana, Kunjungan Imlek ke Vihara Loji Menurun

banner 468x60

WH.SUKABUMI – Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Vihara Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa, Desa Sangrawayang, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, berlangsung dalam nuansa yang jauh dari hiruk pikuk perayaan pada umumnya, Selasa (17/2/2026).

Rumah ibadah yang berdiri megah di atas tebing menghadap Pantai Loji itu tampak lengang. Tidak terlihat atraksi barongsai maupun kerumunan umat yang biasanya memadati area tangga dan pelataran vihara saat Imlek tiba.

Sejumlah pengunjung yang datang justru didominasi wisatawan yang ingin menikmati panorama laut selatan dan arsitektur bangunan yang khas.

Kompleks vihara tersebut dikenal memadukan gaya arsitektur Tionghoa dengan sentuhan Thailand serta unsur budaya Nusantara.

Pengelola vihara, Prabu, menyampaikan bahwa jumlah umat yang hadir tahun ini mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Menurutnya, banyak umat Buddha memilih melaksanakan ibadah di vihara yang lebih dekat dengan tempat tinggal mereka.

“Mayoritas yang datang ke sini biasanya dari luar daerah. Karena di sekitar lokasi tidak banyak umat yang menetap, maka saat akses terganggu, jumlah kunjungan ikut terdampak,” ujarnya.

Faktor kondisi jalan disebut menjadi salah satu penyebab berkurangnya mobilitas pengunjung. Beberapa titik jalur menuju kawasan Palabuhanratu dilaporkan masih mengalami kerusakan akibat bencana alam sebelumnya, sehingga perjalanan menjadi lebih lama karena sistem buka-tutup.

Andre, wisatawan asal Bogor yang datang bersama keluarganya, mengaku harus bersabar menghadapi antrean kendaraan di sejumlah ruas jalan. Meski melelahkan, ia tetap melanjutkan perjalanan demi menikmati suasana pantai dan singgah ke vihara.

“Perjalanannya cukup menguras tenaga karena ada titik longsor dan jalan sempit yang harus bergantian. Tapi setelah sampai, pemandangannya terbayar,” katanya.

Untuk mencapai bangunan utama, pengunjung harus menaiki ratusan anak tangga yang membelah perbukitan. Di sepanjang jalur tersebut berdiri berbagai ornamen dan patung yang menjadi daya tarik tersendiri.

Selain altar utama, terdapat pula ruang pemujaan yang didedikasikan bagi tokoh legendaris tanah Pasundan, yakni Prabu Siliwangi, serta altar untuk sosok yang dikenal dalam mitologi Jawa Barat sebagai Nyi Roro Kidul. Keberadaan altar-altar ini menjadi simbol akulturasi budaya yang hidup berdampingan di kawasan tersebut.

Dari ketinggian tebing, hamparan laut biru dan debur ombak selatan menjadi latar yang menenangkan. Angin laut yang berembus pelan menambah kesan khusyuk bagi mereka yang datang untuk berdoa maupun sekadar berwisata.

Vito, pengunjung yang telah lama mengenal kawasan Loji, mengenang masa-masa ketika Imlek di vihara ini dirayakan dengan meriah pada pertengahan 2000-an. Saat itu, menurutnya, perayaan diwarnai kegiatan sosial dan tradisi budaya yang melibatkan masyarakat sekitar.

“Dulu suasananya sangat ramai, ada pembagian rezeki dan kegiatan bersama warga. Sekarang lebih sederhana,” ujarnya.

Meski tak seramai tahun-tahun silam, Vihara Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa tetap menjadi simbol toleransi dan pertemuan lintas budaya di pesisir selatan Sukabumi. Di tengah tantangan alam dan perubahan zaman, vihara ini terus berdiri menghadap samudra, menyimpan kisah tentang iman, tradisi, dan perjalanan waktu.

(Nanan apon)

editor : Ida

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *