Rumah Retak, Harapan Ikut Goyah: Warga Cihurang Bertahan Tanpa Kepastian

banner 468x60

WH.SUKABUMI – Kondisi memprihatinkan masih dirasakan puluhan warga di Kampung Cihurang, Desa Limusnunggal, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Hingga memasuki tahun 2026, dampak bencana pergerakan tanah yang terjadi pada Desember 2024 belum sepenuhnya tertangani.

Sejumlah rumah tampak mengalami kerusakan berat. Dinding retak, bangunan miring, hingga lantai yang bergeser menjadi gambaran nyata yang masih dihadapi warga setiap hari. Bahkan, sebagian bangunan yang rusak parah belum seluruhnya ditinggalkan penghuninya.

Salah seorang warga, Jamal, mengungkapkan bahwa beberapa rumah yang terdampak sebenarnya sudah tidak layak huni, namun tetap ditempati karena keterbatasan pilihan.

“Rumah ini sebenarnya sudah rusak berat, hanya saja belum roboh. Ada juga yang sudah kosong karena kondisinya benar-benar hancur,” ujarnya.

Ia menambahkan, sebagian warga terpaksa bertahan di rumah yang rusak lantaran tidak memiliki tempat tinggal lain.

“Mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan lain untuk tempat tinggal,” katanya.

Kekecewaan pun muncul karena hingga kini belum ada kejelasan bantuan lanjutan dari pemerintah sejak bencana terjadi dua tahun lalu.

Menanggapi kondisi tersebut, Camat Bantargadung, Syarifuddin, membenarkan masih adanya warga terdampak yang belum menerima bantuan hunian.

“Tercatat ada 30 kepala keluarga yang terdampak pergerakan tanah pada 2024 dan hingga kini belum mendapatkan bantuan hunian tetap maupun hunian sementara,” jelasnya, Minggu (19/4/2026).

Menurutnya, bencana tersebut mengakibatkan kerusakan pada 30 unit rumah serta satu bangunan masjid.

Dalam situasi terbatas, sebagian warga berinisiatif membangun kembali tempat tinggal secara mandiri di lahan relokasi.

“Sebanyak delapan kepala keluarga sudah membangun rumah di lokasi relokasi yang disiapkan di lahan milik perkebunan PT Citimu.

Sementara sisanya, ada yang masih bertahan di lokasi terdampak dan ada juga yang mengungsi ke rumah kerabat,” paparnya.

Meski demikian, tidak semua warga memiliki kemampuan untuk membangun kembali hunian mereka. Banyak di antaranya yang masih menggantungkan harapan pada bantuan pemerintah.

Syarifuddin juga mengungkapkan bahwa para korban belum menerima bantuan dana sewa rumah maupun fasilitas hunian sementara.

“Belum ada bantuan uang kontrak maupun pembangunan huntara dan huntap bagi korban,” tegasnya.

Ia menambahkan, pemerintah kecamatan telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi terdampak serta menyiapkan lahan relokasi seluas sekitar dua hektare di Kampung Cikobak.

Namun hingga saat ini, kehidupan warga di Kampung Cihurang masih diliputi ketidakpastian. Di tengah kondisi rumah yang terus terancam, mereka tetap bertahan sembari menunggu realisasi bantuan yang belum kunjung datang.

(Nanan apon)

editor : Ida

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *