WH.Cilacap – Pelaksanaan pembangunan infrastruktur pertanian diduga terdapat pelanggaran pada praktik konstruksi tanpa adukan patut jadi pertanyaan
Hasil investigasi masyarakat setempat ketua WN 88 Kasikin / kikin, menyoroti proyek pembangunan jaringan irigasi tersier dengan metode kerja hanya menumpuk batu tanpa adukan serta kurang tinggi untuk pasangan lantai saluran
Secara teknis setiap batu yang dipasang wajib dilapisi adukan semen terlebih dahulu dibagian bawah, samping atasnya, batu tidak boleh saling bersentuhan langsung tapi ada sekat semen diantaranya
Namun cara tersebut tidak di pakai pada pembangunan jaringan irigasi yang di kerjakan oleh Kelompok P3A Sarat Mulya Desa Adimulya Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap dengan anggaran Rp 100, 000, 000, dari Kementan RI
Cara pemasangan batu yang di lakukan oleh kelompok P3A Sarat Mulya batu hanya ditata atau ditumpuk pada lantai dan pasangan badan saluran
Tidak sampai disitu saya menyaksikan sendiri pengukuran tinggi lantai oleh salah satu pekerja proyek dari benang terpasang hanya 8 Cm, jika tinggi lantai 20 Cm maka ada kekurangan volume lantai dan badan saluran 12 Cm, serta kurangnya transparansi, papan proyek di pasang tetapi kolom panjang, lebar dan tinggi sengaja di kosongkan agar masyarakat sulit mengukur kesesuaian fisik bangunan
Keadaan tersebut tentu ada dampak bagi masyarakat karena pasang batu hanya di tumpuk tanpa adukan semen memiliki rongga yang besar, dan akan berpengaruh pada umur bangunan dan keamanan bangunan
Kejadian ini diduga kuat minim atau lemahnya pengawasan pengawas proyek, dari dinas terkait atau konsultan pengawas yang jarang turun ke lokasi, sehingga pekerja, pelaksana proyek bebas memanipulasi progres
Pelanggaran spesifikasi teknis serta pengiritan bahan material dari RAB dapat di kategorikan korupsi, maka pada pihak terkait dengan kegiatan kelompok P3A Sarat Mulya untuk segera turun kroscek lokasi ( A, Supendi / Naistiani )
editor : Ida











