WH.SUKABUMI – Menjelang peringatan Peristiwa 27 Juli 1996 atau yang dikenal sebagai Sabtu Kelabu, mantan aktivis pergerakan sekaligus mantan Wakil Bupati Sukabumi, H. Ucok Haris Maulana, mengenang kembali perjalanan panjang perjuangannya di masa lalu. Momen tersebut disampaikannya saat ditemui di kediamannya di Jalan Mariuk RT 02/02, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (25/7/2026).
Dalam kesempatan itu, Ucok mengaku baru menerima undangan untuk menghadiri peringatan 27 Juli tahun ini setelah tiga kali peringatan sebelumnya tidak mendapat undangan. Hal itu membangkitkan kembali kenangan perjuangan yang telah dilaluinya bersama rekan-rekan seperjuangan pada era pergerakan tahun 1996.
“Saya sangat merindukan teman-teman seperjuangan. Peristiwa itu tidak akan pernah terlupakan karena kami merasakan langsung bagaimana beratnya perjuangan saat itu,” ujar Ucok.
Ia menceritakan, saat kerusuhan 27 Juli 1996 pecah, dirinya bersama 123 orang lainnya ditangkap aparat. Menurutnya, mereka dipaksa mengakui tuduhan membawa bom molotov, senjata tajam, dan berbagai barang berbahaya lainnya.
“Padahal kami tidak melakukan hal tersebut. Justru kami dari pihak pendukung Ibu Megawati yang lebih dulu diserang pada Sabtu pagi sekitar pukul 06.15 WIB.
Peristiwa itulah yang kemudian dikenal sebagai Kerusuhan atau Kudeta Berdarah Sabtu Kelabu,” ungkapnya.
Akibat peristiwa tersebut, sebanyak 124 orang harus menjalani hukuman penjara selama empat bulan tiga hari.
Setelah bebas, para mantan tahanan kemudian membentuk wadah silaturahmi bernama Forum Komunikasi Kerukunan 124-27 Juli 1996 sebagai simbol persaudaraan yang tetap terjaga hingga kini.
Ucok menilai perjuangan yang dilakukan di luar sistem sering kali tidak mendapat pengakuan. Namun, menurutnya, semangat perjuangan itu justru mengantarkannya dipercaya masyarakat hingga menjabat sebagai Wakil Bupati Sukabumi periode 2000-2005.
“Karena perjuangan yang dilakukan di luar sistem sering kali tidak dianggap. Namun Alhamdulillah, saya diberi amanah untuk mengabdi sebagai Wakil Bupati Sukabumi selama satu periode,” katanya.
Selama menjabat, Ucok mengaku berupaya memperjuangkan berbagai kepentingan masyarakat, mulai dari rencana pembentukan dan perpindahan ibu kota Kabupaten Sukabumi, pembangunan infrastruktur jalan, hingga berbagai program pembangunan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ia juga menyinggung pemanfaatan lahan yang sebelumnya dipersiapkan untuk kepentingan negara. Menurutnya, sebagian lahan tersebut kini beralih fungsi menjadi kawasan permukiman.
“Padahal sejak awal peruntukannya untuk kepentingan negara, bukan untuk kepentingan individu maupun kelompok tertentu. Itu yang menurut saya perlu menjadi perhatian,” tegasnya.
Di akhir perbincangan, Ucok berharap semangat perjuangan dan nilai-nilai demokrasi yang lahir dari peristiwa 27 Juli 1996 tetap menjadi pelajaran berharga bagi generasi muda agar sejarah tidak dilupakan dan demokrasi di Indonesia terus terjaga.’pungkasnya.(Nanan apon)
editor : Ida











