Tambang Baru Vale di RI: Targetkan Blok Tanamalia di Luwu Timur

banner 468x60

WH.Jakarta – PT Vale Indonesia Tbk menargetkan Blok Tanamalia di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, mulai beroperasi paling cepat pada tahun 2029. Proyek tambang baru ini disiapkan untuk memasok bahan baku nikel bagi ekosistem rantai pasok kendaraan listrik global.

PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) menjajaki kerja sama pengembangan tambang baru Tanamalia di Blok Sorowako, Sulawesi Selatan, dengan menggandeng mitra perusahaan otomotif (automaker) asal Eropa.

Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer Vale Indonesia Budiawansyah menyatakan proyek tersebut rencananya bakal terintegrasi dengan smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) yang membutuhkan bijih nikel limonit.

“Ini masa depan dan sedang mulai dirintis. Itu kerja sama di Blok Tanamalia. Ini sangat istimewa karena mitra kita, salah satunya adalah pabrikan kendaraan terkemuka dari Eropa,” kata Budiawansyah dalam Grand Seminar Hipmi, Kamis (6/8/2026)./dilansir Bloomberg Technoz

Dalam bahan paparan yang ditayangkan, pengembangan tambang tersebut sedang dalam tahap studi front end loading (FEL) tahap II yang melingkupi; penyusunan feasibility study (FS), keekonomian, teknis pengembangan, operasional, legal, serta aspek environmental, social, and governance (ESG).
Sementara itu, proyek smelter HPAL-nya bakal dibangun bersama mitra dan saat ini sedang tahap pemilihan mitra
Lebih lanjut, Blok Tanamalia merupakan bagian dari izin usaha pertambangan khusus (IUPK) Vale Indonesia yang meliputi subblok IUPK Loeha, Lemo-Lemo, dan Lingkona dengan luas 13.556 hektare (ha).

Blok Tanamalia juga berada di kawasan hutan Sorowako dengan izin eksplorasi lanjutan seluas 17.239 ha. Area Tanamalia mencakup desa loeha dan sebagian kecil desa Rante Angin, Luwu Timur.

Dijelaskan bahwa jika kandungan nikel cukup memadai maka konstruksi bakal dilakukan mulai 2027—2028 dan penambangan dimulai paling cepat 2031.

Cadangan Nikel Vale

Sekadar informasi, Head of Studies and Exploration Vale Indonesia Tyas Agustinus Rabudianto mengungkapkan posisi cadangan nikel perseroan per 31 Desember 2025 mencapai 1,18 miliar ton basah atau sekitar 664 juta ton kering. Cadangan tersebut dapat ditambang hingga 20 tahun.

Vale juga memiliki sumber daya nikel sekitar 1,67 miliar ton basah atau setara dengan 1 miliar ton kering. Dengan demikian, cadangan perseroan masih dapat ditingkatkan menjadi tahan untuk 50 tahun penambangan.

Tyas mengungkapkan cadangan nikel yang belum ditambang terdiri dari 695,57 juta ton basah limonit (nikel kadar rendah) dan 489,40 juta ton basah saprolit (kadar tinggi).

Untuk sumber daya, besaran bijih limonit diperkirakan mencapai 657,1 juta ton basah dan saprolit sebesar 1,02 miliar ton basah.

“At least 20 tahun. Untuk yang kita yang cadangan itu kita masih punya resource yang belum kita pakai. Satu setengah kali yang di sekarang. Kalau dijumlahkan bisa total 50-an tahun,” kata Tyas dalam diskusi publik di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (29/4/2026).

Tyas mengungkapkan perseroan mengalokasikan sekitar 2% dari pendapatan atau sekitar US$15—US$16 juta per tahun untuk biaya eksplorasi, sehingga sumber daya dan cadangan bijih nikel perseroan diharapkan dapat terus meningkat.

Biaya eksplorasi tersebut juga dapat ditingkatkan jika nantinya dibutuhkan. Tyas mengklaim dewan direksi sudah menginstruksikan hal tersebut.

Saat ini, dari total wilayah konsesi Vale Indonesia sebesar 118.017 ha, total wilayah yang telah tereksplorasi baru sekitar 68%.
Dilirik VW

Di sisi lain, pabrikan otomotif asal Jerman, Volksagen AG (VW), sebelumnya disebut-sebut sempat menyatakan minatnya bekerja sama dengan Vale Indonesia dalam pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik.

Associate Energy Analyst di Sekretariat Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Fitria Astuti Firman menyebut pemerintah sedang menyusun standar ESG nasional melalui gap analysis (analisis kesenjangan) antara regulasi domestik dengan standar internasional untuk mengakomodasi investor asing di sektor mineral kritis.

Dalam kaitan itu, dia menyebut VW tertarik untuk masuk ke proyek nikel Vale dengan syarat ESG yang ketat.

“Langkah ini krusial agar produk mineral Indonesia dapat diserap oleh rantai pasok global. Contoh sukses penerapan ini adalah kerja sama PT Vale dengan raksasa otomotif dunia seperti Ford dan Volkswagen, yang mewajibkan kepatuhan ESG berstandar global,” ungkapnya di agenda diskusi publik Indef, Rabu (17/6/2026).

Sekedar informasi, berdasarkan data INCO per April 2026, proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa jadi sorotan karena nilai investasinyavyangvterbesar, mencapai US$4,5 miliar, melalui kolaborasi dengan Ford dan Huayou

Sementara itu, proyek smelter IGP Morowali telah memasuki progres operasional. Blok Bahodopi dengan luas 22.669 ha dilaporkan mulai beroperasi sejak kuartal 1-2025.*

(Dian)

editor : Ida

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *