Pemkab Abaikan, Potensi Kerajinan Limbah Pesisir

banner 468x60

WH.Sukabumi – Pendiri Yayasan Mahabbaturrosul, Habib M. Fahmi Assegaf, kembali menyuarakan harapan besar agar pemerintah Kabupaten Sukabumi dan pihak swasta ikut memberi perhatian pada karya seni dan kerajinan tangan berbahan limbah kayu pantai yang dikelolanya. Melalui Mahabbaturrosul, ia ingin menghidupi pendidikan Islam dan memberdayakan masyarakat sekitar.

Pernyataan ini disampaikan Habib Fahmi saat ditemui wartawan di di saung kerajinannya di Kampung Batu Sapi, Kelurahan Palabuhanratu, Kecamatan Palabuhanratu, Kamis (14/8/2025).

“Ya Allah, semoga Engkau ciptakan rezeki yang penuh berkah melalui orderan kerajinan limbah kayu pantai, seperti piala 17 Agustusan,” tutur Habib.

Menurutnya, momen HUT Kemerdekaan RI seharusnya bisa menjadi peluang bagi pengrajin lokal untuk berkontribusi. Ia berharap Pemkab Sukabumi, perusahaan, atau pihak lain bisa memesan piala dan cendera mata untuk lomba maupun kegiatan resmi.

“Kalau ada orderan dari pemerintah atau perusahaan, insyaallah hasilnya bisa kami salurkan untuk membantu agama, menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang lebih baik. Karena saat ini kami belum punya donatur tetap,” ujarnya.

Habib mengungkapkan, Pemkab Sukabumi pernah memesan cendera mata dari Mahabbaturrosul, pada peringatan hari jadi daerah. “Alhamdulillah, waktu itu semua cindera mata dari kami,” kenangnya.

Bahan baku kerajinan ini, kata Habib, 80 persen diambil dari limbah kayu di pesisir Pantai Loji. “Yang dulu dianggap masalah, sekarang membawa berkah. Tinggal kami olah dengan senso atau gergaji,” jelasnya.

Usaha ini mulai aktif pada 2014 secara manual, lalu berkembang pesat sejak 2018 ketika PLTU memberikan bantuan mesin melalui program CSR. “Alhamdulillah, kualitas kerajinan semakin bagus,” katanya.

Pemasaran sempat meluas hingga keluar daerah dengan bantuan Kodim 0622 dan dukungan pemerintah yang memberi stand pameran atau membeli produk untuk dijual kembali. Namun, kini penjualan melambat seiring berkurangnya dukungan tersebut.

Harga kerajinan bervariasi, mulai dari Rp100 ribu hingga Rp500 ribu, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Untuk piala, harga satu set (juara 1, 2, dan 3) dengan ukiran khusus bisa mencapai Rp750 ribu.
Habib berharap Pemkab Sukabumi memberi perhatian lebih pada karya seni berbahan limbah ini.

“Dari sini kita bisa memberdayakan masyarakat, membeli kayu dari mereka, dan mempekerjakan warga sekitar. Kalau ada perhatian, manfaatnya akan kembali ke umat,” tegasnya.

Dengan usaha ini, Habib Fahmi tak sekadar mencari rezeki, tapi membangun pondasi ekonomi bagi keberlangsungan Yayasan Mahabbaturrosul, dari PAUD hingga pondok pesantren. (Nanan apon)

editor : Ida

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *