Kampung Tipar Berhias ala Pakuan, Meriahkan 17 Agustus dengan Budaya Sunda

banner 468x60

WH.Sukabumi – Menjelang HUT ke-80 Kemerdekaan RI, suasana di Kampung Tipar, Kelurahan/Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, tampak semarak. Jalan sepanjang 100 meter di RT 02 disulap menjadi lorong tradisional dengan hiasan janur, kukusan bambu, hingga burung putih dari galon bekas. Semua ini lahir dari kreativitas warga, meski tanpa sokongan dana dari RW.

Konseptor sekaligus penggagas ide, Eman Sulaeman (70), mengatakan tradisi menghias jalan ini sudah berlangsung empat tahun. “Awalnya karena RW kurang merespons, warga yang mau hiburan ya bikin sendiri. Ini juga bukan semua warga, hanya beberapa orang yang ikhlas nyumbang dan ikut kerja,” ujarnya, Kamis (14/8/2025).

Eman mengungkapkan, hampir seluruh ornamen dibuat dari barang bekas. “Galon, jerami, kukusan bambu, semua dimanfaatkan. Temanya tahun ini ‘Memanfaatkan Ketiadaan Jadi Kreativitas’—tradisional, kembali ke suasana kampung atau lembur, walaupun kita di perkotaan,” jelasnya.

Proses pengerjaan memakan waktu hampir sebulan. Jerami diambil dari sawah setelah panen, bambu dibeli Rp 500 ribu per paket, dan sebagian besar hiasan dibuat sendiri.
“Kalau dihitung total, biayanya sekitar Rp 4–5 juta. Itu pun patungan seikhlasnya, ada yang nyumbang kopi atau rokok,” kata Eman.

Ketua RT 02, Dodi Kusnadi, yang menjadi pendukung utama ide ini, menyebut pengerjaan dimulai sejak 1 Juli. “Awalnya cuma saya, Pak Eman, dan Pak Gimpung. Lama-lama warga lain ikut, ada Pak Jep, Pak Ucen, Pak Ujang Bima, dan lainnya, total sekitar 10 orang. Tahun ini lebih semangat karena katanya mau dinilai dari kelurahan,” ujarnya.

Dodi menegaskan kegiatan ini bukan hanya soal dekorasi, tapi juga menghidupkan kembali budaya gotong royong. “Saya nggak suka nyuruh-nyuruh, lebih baik saya kasih contoh langsung. Kalau ada yang nggak ikut, ya nggak masalah, jangan suudzon. Yang penting kita berikan yang terbaik,” katanya.

Selain pria, kaum ibu juga ikut berkreasi dengan barang bekas. Salah satu spot menarik adalah replika lumbung padi (leuit) karya Pak Luki, warga yang berprofesi sebagai perias pengantin. “Setiap orang punya kemampuan masing-masing. Kita hargai dan dukung. Yang penting kebersamaan terjaga,” pungkas Dodi.

Kini, lorong RT 02 Kampung Tipar berdiri sebagai contoh bahwa keterbatasan dana bukan halangan untuk berkarya. Dengan sentuhan tradisional dan semangat gotong royong, warga membuktikan bahwa kemerdekaan bisa dirayakan dengan sederhana namun penuh makna. (Nanan apon)

editor : Ida

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *