WH.BOGOR -Mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) melalui Bidang Lingkungan dan Masyarakat (Lingmas) BEM UPNVJ kembali melaksanakan program Sustainable Village (SUSVIL) 2025 di Desa Cijantur, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Kegiatan yang berlangsung selama sepuluh hari, sejak 15 hingga 24 Oktober 2025, ini menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa dalam mendukung pembangunan desa yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan.

Tahun ini, program Sustainable Village diikuti oleh tujuh fakultas, yaitu Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Hukum (FH), Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Fakultas Teknik (FT), Fakultas Kedokteran (FK), dan Fakultas Ilmu Komputer (FIK). Seluruh fakultas berkolaborasi membawa solusi dari enam bidang utama: pendidikan, kesehatan, ekonomi, administrasi kependudukan, teknologi, dan digitalisasi desa.
*Permasalahan Mendasar Masyarakat Cijantur*
Berdasarkan hasil observasi lapangan dan diskusi dengan warga, mahasiswa menemukan sejumlah permasalahan yang masih dihadapi masyarakat Desa Cijantur.
Dalam bidang pendidikan, minat belajar anak-anak sekolah dasar terbilang tinggi, namun proses belajar masih bersifat satu arah. Metode pembelajaran terbatas pada penyampaian materi tanpa aktivitas pendukung seperti diskusi interaktif atau praktik langsung. Tidak adanya kegiatan ekstrakurikuler seperti sekolah dasar pada umumnya di perkotaan membuat anak-anak kesulitan mengenali minat dan bakatnya. Selain itu, kondisi lingkungan sekolah yang kotor menunjukkan rendahnya kesadaran menjaga kebersihan.
Di bidang kesehatan, masyarakat menghadapi keterbatasan akses layanan medis. Posyandu yang tersedia juga tidak dapat menjadi solusi, karena hanya melayani ibu hamil dan balita, sementara warga lain yang sakit harus menempuh perjalanan sekitar 40 menit ke puskesmas terdekat dengan kondisi jalan yang sulit dilalui. Minimnya penyuluhan kesehatan menyebabkan masyarakat belum memahami pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin dan pencegahan penyakit seperti cacingan yang dapat menyerang anak-anak.
Salah satu warga kampung Cijantur, Ibu Ita (45 tahun), menilai bahwa pelayanan kesehatan di desanya masih sangat terbatas. “Akses ke layanan medis masih sulit. Lokasi puskesmas atau bidan cukup jauh, sementara kegiatan posyandu jarang dilakukan. Sosialisasi dari pihak puskesmas pun hampir tidak pernah ada,” ujar Ibu Ita saat ditemui di rumahnya.
Permasalahan lain muncul di sektor ekonomi. Sebagian besar warga bekerja sebagai petani kopi, namun belum memahami strategi pemasaran yang baik. Hasil panen dijual langsung ke warung sekitar dengan harga sekitar Rp60.000 per kilogram, jauh di bawah nilai pasarnya.
Dalam bidang administrasi kependudukan, masih banyak warga, khususnya lansia, yang belum memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) karena keterbatasan mobilitas dan akses menuju kantor pelayanan publik. Forum diskusi antara mahasiswa dan perangkat desa pun belum sepenuhnya berjalan optimal karena belum ada tindak lanjut konkret dari pihak terkait.
Sementara itu, dari sisi teknologi dan lingkungan, masyarakat menghadapi masalah belum adanya inovasi pengelolaan sampah, yang dimana Masyarakat masih terbiasa membakar sampah di alam terbuka karena tidak tersedianya tempat pembuangan, yang menyebabkan polusi udara di sekitar permukiman warga.
Selain itu, ditemukan permasalahan berupa minimnya penerangan jalan di kampung Cijantur, yang dapat membuat aktivitas warga pada malam hari terbatas dan berpotensi membahayakan keselamatan.
Adapun pada bidang digitalisasi, masyarakat masih minim pemahaman dalam memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi dan penjualan. Padahal, potensi ekonomi dari hasil pertanian kopi dapat meningkat jika dikelola dengan strategi digital yang tepat.
*Mahasiswa Hadirkan Solusi Lintas Disiplin*
Untuk menjawab permasalahan tersebut, mahasiswa dari tujuh fakultas yang ber kolaborasi bersama BEM UPNVJ dalam program Sustainable V
BEM UPNVJ dalam program Sustainable Village 2025, menghadirkan berbagai solusi multidisipliner sesuai bidang keilmuannya.
Pada bidang pendidikan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan melalui sistem diferensiasi kelas berdasarkan usia agar penyampaian materi lebih efektif. FISIP juga mengadakan pengajaran Bahasa Inggris interaktif, edukasi kebersihan lingkungan, serta pentas seni yang melibatkan siswa dalam drama, pidato, dan tari sebagai wadah pengembangan minat dan bakat anak-anak.
Pada bidang Digitalisasi, Fakultas Ilmu Komputer (FIK) memberikan edukasi terkait pemanfaatan media sosial, khususnya Instagram, sebagai sarana promosi hasil pertanian kopi. Selain itu, mahasiswa FIK membuat titik lokasi “Aroma Cijantur” di Google Maps agar produk lokal lebih mudah ditemukan oleh pembeli.
Di bidang kesehatan, Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) berkolaborasi menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan gratis dan penyuluhan pencegahan penyakit berbasis keluarga, termasuk edukasi terkait bahaya cacingan. Kegiatan ini sekaligus mengubah pandangan masyarakat bahwa posyandu hanya diperuntukkan bagi ibu dan balita.
Sementara itu, di bidang Administrasi, Fakultas Hukum (FH) berperan dalam pendampingan pembuatan dokumen kependudukan dan sosialisasi pentingnya administrasi legal bagi warga desa, khususnya lansia yang belum memiliki identitas resmi.
Kontribusi bidang Teknologi, oleh Fakultas Teknik (FT) diwujudkan melalui inovasi tiang lampu tenaga surya di sejumlah titik jalan utama dan pembuatan eco burner sebagai solusi sederhana pengelolaan sampah rumah tangga agar tidak lagi dibakar di alam terbuka.
Adapun Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) memberdayakan ekonomi lokal dengan pelatihan door-to-door kepada petani kopi, workshop pengolahan hasil panen, serta strategi pemasaran produk agar hasil tani memiliki nilai jual dan daya saing yang lebih tinggi.
*Harapan untuk Keberlanjutan Desa*
Dengan mengusung tema “KILAU: Kolaborasi Inovatif untuk Keberlanjutan dan Aksi Unggul”, Sustainable Village 2025 berfokus pada penguatan enam pilar utama: pendidikan, ekonomi, kesehatan, administrasi, teknologi, dan digitalisasi. Program ini dikemas melalui pendampingan, penyuluhan, pelatihan, dan penerapan inovasi sederhana yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Selain memberikan manfaat langsung bagi warga, kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran lintas disiplin bagi mahasiswa untuk memahami dinamika sosial, mengasah empati, dan memperkuat kolaborasi antar bidang. Sinergi antar fakultas diharapkan dapat melahirkan solusi yang tidak hanya menyentuh masalah di permukaan, tetapi juga memberikan dampak jangka panjang bagi keberlanjutan desa.
“Sustainable Village bukan sekadar kegiatan pengabdian, tetapi ruang belajar bersama antara mahasiswa dan masyarakat untuk membangun solusi nyata bagi kehidupan yang lebih baik,” ujar perwakilan Bidang Lingmas BEM UPNVJ.
Dengan dukungan pemerintah desa, mitra akademik, dan partisipasi aktif masyarakat, BEM UPNVJ berkomitmen untuk terus mengembangkan inovasi pengabdian masyarakat yang relevan, berdampak, dan berkelanjutan demi terwujudnya desa cerdas, mandiri, dan berdaya. (Rachman/Hoeriyah)
editor : Ida











