Tak Disokong Pemerintah, Habib Fahmi Berjuang Sendiri Hidupi Majelis dan Santri Mahabbaturrosul “Kalau Saya Wafat, Entah Bagaimana Nasib Mereka…”

banner 468x60

WH.Sukabumi – Perjuangan Habib M. Fahmi Assegaf mendirikan dan merawat Yayasan Mahabbaturrosul di Kampung Batu Sapi, Palabuhanratu, Sukabumi, bukan perkara mudah. Tanpa ada sokongan dari pemerintah, pria bergelar Habib ini memilih jalan sunyi: menghidupi lembaga pendidikan Islam miliknya dengan tangan sendiri.

“Saya sering berpikir, bagaimana nanti nasib para santri, jamaah majelis, dan murid-murid kalau saya wafat. Siapa yang akan tanggung jawab untuk listrik, makan, dan kebutuhan operasional dari PAUD sampai pondok pesantren?” ucap Habib Fahmi dengan nada lirih.

Ia mengaku, alasan terbesar dirinya terus berjuang adalah karena belum adanya donatur tetap. Untuk itu, Habib Fahmi merasa perlu meninggalkan sebuah usaha mandiri agar roda dakwah dan pendidikan di Mahabbaturrosul tetap berjalan kelak meski ia sudah tiada.

Berbekal keyakinan dan semangat membela Islam, Habib Fahmi mengubah limbah kayu pantai dari pesisir Loji menjadi sumber penghidupan. Kayu-kayu yang tak lagi digunakan itu ia kumpulkan, pilah, lalu diolah menjadi kerajinan bernilai seni seperti lampu hias, gantungan kunci, ukiran, hingga perabot kecil lainnya.

“Semua kami buat sendiri. Terkadang santri juga ikut bantu. Hasilnya kami jual, dan uangnya untuk operasional yayasan. Jadi, Mahabbaturrosul berdiri dari keringat sendiri,” ujar pria berambut gondrong.

Yayasan yang ia dirikan sejak 2016 itu mencakup berbagai lembaga pendidikan, dari PAUD, MDTA, Majelis Qur’an, hingga pondok pesantren. Semuanya gratis. Bahkan seragam santri pun ditanggung Habib Fahmi.

“Saya lihat masyarakat di sini dulu sangat terabaikan. Banyak anak-anak dari keluarga tidak mampu, tak punya akses pendidikan agama. Itu yang mengetuk hati saya untuk mendirikan Mahabbaturrosul,” ungkapnya.

Proses kreatif pengolahan limbah kayu dimulai dari kejenuhan melihat sampah kayu di pesisir pantai yang hanya dibakar sia-sia. Ia lantas memungut sebagian kayu tersebut dan mencoba membentuknya menjadi barang berguna.

“Awalnya hanya iseng. Tapi ternyata bisa jadi gantungan, ukiran, lampu. Dan bisa dijual. Saya percaya, ini bagian dari jalan berkah,” tuturnya.

Dalam sehari, ia bisa menyelesaikan hingga tiga buah lampu hias. Sementara ukiran memakan waktu lebih lama tergantung pola dan tingkat kesulitannya. Harga tiap kerajinan bervariasi, mulai dari Rp150 ribu hingga Rp750 ribu.

Meski sempat mendapat angin segar dari PLN Indonesia Power Palabuhanratu yang telah menyediakan galeri untuk memajang karya seni miliknya dan membeli beberapa lampu hias untuk dipasang di lingkungan mereka, kendala pemasaran masih membelit.

Galeri yang berada di dekat kantor Kecamatan Palabuhanratu itu sepi pengunjung. Akibatnya, banyak kerajinan tangan hasil karya Habib Fahmi yang tidak terjual.

“Sudah ada galeri dari PLN Indonesia Power, dan alhamdulillah mereka juga sempat beli beberapa lampu. Tapi karena tempatnya jarang dikunjungi orang, dagangan kami banyak yang nganggur. Sayang sekali,” ucapnya.

Ia pun berharap pemerintah Kabupaten Sukabumi bisa turun tangan. Bukan hanya melihat sebagai produk UMKM semata, tapi memahami bahwa perjuangannya murni untuk kepentingan umat.

“Seharusnya ini bisa dibantu pemerintah daerah, mungkin lewat pameran rutin, dibuatkan outlet atau dibantu pemasarannya. Karena ini bukan untuk pribadi saya, tapi untuk keberlangsungan pendidikan Islam, untuk masa depan anak-anak kampung ini,” pintanya.

Kini, santri yang menetap di pondok hanya 15 orang, dan murid MDTA tinggal 41 anak. Meski jumlah menurun, semangat Habib Fahmi tak surut sedikit pun.

“Bagi saya, ini bukan hanya soal pendidikan. Ini jalan perjuangan untuk membela Islam. Dan selama masih ada napas, saya akan terus berjuang untuk mereka,” tegasnya.(Nanan apon)

editor : Ida

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *