WH.Sukabumi – Di tengah panas menyengat, ribuan warga memadati ruas jalan di Cisolok pada Kamis (10/7/2025). Bukan sekadar karnaval, Hari Nelayan ke-28 tahun ini berubah menjadi ajang menyuarakan jeritan lama: permintaan dermaga yang layak untuk nelayan.
Arak-arakan budaya sepanjang tiga kilometer mengalir dari desa ke dermaga Pajagan. Tak ada larung sesajen seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebagai gantinya, tabur bunga dilakukan di bekas dermaga rusak yang telah ditinggalkan fungsi sejak lebih dari dua puluh tahun lebih.
“Ini bukan hanya seremonial. Ini bentuk perlawanan simbolik,” ujar Heri Suryana, Kepala Desa Cikahuripan yang akrab disapa Jaro Midun, saat memimpin rombongan.
Salah satu sorotan dalam parade adalah kereta kuda berhias yang membawa Aura Maulida, Putri Nelayan 2025 dari SMAN 1 Cikakak, bersama Raja Nelayan, Gilang Nugraha.
Namun, iring-iringan itu terhenti tepat di depan dermaga rusak yang kini diselimuti semak.
Aura melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki—sebuah simbol kepedihan nelayan yang selama ini berjalan sendiri tanpa fasilitas.
“Biar Putri Nelayan juga merasakan, gimana rasanya nelayan berjuang tanpa dermaga. Jalan kaki pun tak seberapa dibanding derita mereka,” kata Jaro Midun.
Ia menegaskan, setiap tahun ada saja perahu yang rusak atau karam karena tidak adanya fasilitas tambat yang memadai. “Kalau ditanya berapa kapal hancur dalam setahun? Minimal satu sampai tiga. Bahkan sudah beberapa kali nyaris merenggut nyawa,” ungkapnya.
Warga tak ingin Hari Nelayan sekadar jadi acara tahunan yang penuh sorak tapi kosong solusi. Lewat bunga-bunga yang ditabur, mereka menitipkan doa dan tuntutan.
“Pemerintah jangan tutup mata. Kami bukan minta proyek mercusuar. Kami hanya minta dermaga yang layak agar roda ekonomi nelayan bisa hidup. Kalau dibiarkan terus seperti ini, jangan salahkan kalau kemiskinan nelayan makin dalam,” tegas Jaro Midun.


Dermaga Pajagan yang sempat dirancang menjadi pusat aktivitas ekonomi nelayan kini jadi saksi bisu kegagalan pembangunan. Dan Hari Nelayan 2025, bagi warga Cisolok, bukan sekadar pesta—ini adalah panggung perlawanan”pungkas midun. (Nanan apon)
editor : Ida











