WH.Sukabumi – Kisah pilu datang dari Iis (43), seorang janda asal Kampung Ciranji, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi. Sejak dua tahun terakhir, ia bersama dua anaknya tinggal di sebuah gubuk berukuran hanya 2×3 meter di tengah hutan Kampung Cibolang, Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu.
Kehidupan Iis berubah drastis setelah rumahnya dijual oleh sang suami. Saat Iis bekerja di Jakarta, suaminya menikah lagi dan meninggalkannya tanpa tempat tinggal. Sejak itu, ia hanya bisa menumpang di saung reyot milik warga.
“Dulu saya punya rumah, tapi pas kerja di Jakarta suami nikah lagi dan rumah dijual. Sejak cerai, sudah dua tahun saya tinggal di sini. Hidup serba pas-pasan, buat makan kadang ada yang ngasih,” kata Iis saat ditemui sabtu (30/8/2025).
Untuk bertahan hidup, Iis sesekali bekerja sebagai penyadap karet. Namun penghasilan yang didapat tidak menentu. “Kadang sebulan dapat Rp400 ribu, kadang nggak ada sama sekali,” ungkapnya.

Kondisi tempat tinggal Iis jauh dari kata layak. Gubuk kecil berdinding bilik bambu dan di tutupi karung pintunya yang ia huni kerap bocor saat hujan hingga membuat dirinya dan anak-anak basah kuyup. Untuk kebutuhan mandi, ia harus ke selokan kecil di perbukitan.
Sementara air minum diambil dari aliran sawah terdekat.
Di tengah keterbatasan itu, anak sulungnya, Lastri (14), yang baru lulus Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan sudah 3 tahun sekarang tidak sekolah seharusnya kelas 3 smp terpaksa berhenti sekolah karena tidak ada biaya. Adiknya yang masih berusia 2,5 tahun hanya bisa bermain di sekitar kebun.
“Anak saya yang besar nggak bisa lanjut sekolah. Sedih sekali, tapi mau bagaimana lagi, biaya nggak ada,” ucapnya lirih.
Meski memiliki KTP, alamat kependudukan Iis masih tercatat di Ciranji, Kecamatan Cikakak. Hal ini membuatnya kerap tidak mendapatkan bantuan sosial.
“KTP ada, tapi alamat lama. Jadi kalau ada bantuan, saya nggak pernah kebagian,” jelasnya.
Di tempat yang sama mamah keyet (53 )berharap pemerintah memberi perhatian serius. Mereka menilai kehidupan Iis dan kedua anaknya sangat layak mendapatkan uluran tangan, terutama demi masa depan pendidikan anaknya.
“Kondisinya memprihatinkan, masa depan anaknya terancam. Pemerintah harus turun tangan,” kata mamah keyet.
(Nanan apon)
editor; Ida











