WH.Sukabumi – Sungai Cimandiri merupakan salah satu sungai tua yang memiliki peran penting dalam sejarah terbentuknya permukiman di wilayah Bagbagan, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. Sungai ini bukan hanya menjadi sumber kehidupan, tetapi juga saksi perjalanan panjang masyarakat dari masa ke masa.
Sesepuh Bagbagan Mariuk, Edem Barong, menuturkan bahwa kisah Sungai Cimandiri telah ia dengar sejak kecil dari kakeknya, seorang tokoh yang dikenal memahami betul sejarah sungai tersebut.
Cerita cerita itu masih lekat di ingatannya hingga kini.
“Kakek saya itu tahu sejarah Cimandiri. Waktu saya masih kecil, beliau sering bercerita bagaimana sungai ini jadi sumber kehidupan orang Bagbagan,” ujar Edem Barong, selasa (20/1/2026).
Menurut penuturan kakeknya, sejak dahulu Sungai Cimandiri dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai keperluan, mulai dari mengairi sawah, mencari ikan, hingga sebagai jalur transportasi tradisional. Keberadaan sungai besar ini menjadi alasan utama warga menetap dan membangun kampung di sekitarnya.
Tak hanya itu, Edem Barong juga mengungkapkan keterlibatan langsung kakeknya pada masa penjajahan Belanda, khususnya saat pembangunan Jembatan Bagbagan yang melintasi Sungai Cimandiri.
“Kakek saya ikut zaman Belanda membangun jembatan Bagbagan. Orang orang kampung waktu itu dilibatkan sebagai pekerja, alatnya masih sederhana, tapi jembatan itu sangat penting,” tuturnya.
Pembangunan jembatan tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah wilayah Simpenan, karena membuka akses darat dan memperlancar distribusi hasil pertanian serta perikanan masyarakat.
Sungai Cimandiri yang sebelumnya menjadi batas alami, berubah menjadi jalur penghubung strategis antarwilayah.
Bagi masyarakat Bagbagan, Sungai Cimandiri tidak hanya memiliki nilai geografis, tetapi juga nilai budaya dan sejarah yang kuat. Sungai ini menjadi saksi lahirnya kampung kampung tua, berkembangnya ekonomi tradisional, hingga masuknya infrastruktur pada masa kolonial.
“Cimandiri itu bukan sekadar sungai. Dari cerita kakek saya, sungai ini sudah ada jauh sebelum jalan dan jembatan dibangun. Ia bagian dari sejarah hidup orang Bagbagan,” kata Edem Barong.
Berdasarkan catatan geografi dan cerita turun temurun warga, Sungai Cimandiri bermula dari kawasan pegunungan di wilayah utara Sukabumi, yang merupakan bagian dari rangkaian alam Gunung Gede Pangrango.
Aliran sungai kemudian berkelok melintasi lembah, perkampungan, dan lahan pertanian hingga akhirnya bermuara di Samudera Hindia melalui wilayah palabuhanratu, termasuk Bagbagan sebagai salah satu titik pentingnya.
Nama Cimandiri sendiri diyakini berasal dari bahasa Sunda, gabungan kata “ci” yang berarti air dan “mandiri” atau “mendiri”, yang oleh sebagian tokoh adat dimaknai sebagai sungai besar yang mengalir sendiri dan menjadi pusat kehidupan sekitarnya.
“Sejak dahulu, Cimandiri sudah menjadi urat nadi warga. Airnya digunakan untuk bertani, mandi, hingga jalur perahu kecil masyarakat pesisir,” ungkap edem.
Hingga kini, Sungai Cimandiri masih mengalir melintasi Kecamatan Simpenan, membawa warisan cerita masa lalu yang diharapkan tetap terjaga dan dikenang oleh generasi penerus sebagai bagian dari identitas sejarah Sukabumi selatan.
(N. A)
editor : Ida











