Bertajuk Larangan Plastik Sekali Pakai ” Solusi Nyata Atau Gimik Para Kaum Kapasitas?: MAPALA TRUNGKEULAHI-PILM Bersama dengan AKSARA Gelar Bedah Film Dokumenter di Desa Labota – Morowali

banner 468x60

WH.Morowali  – Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap krisis lingkungan yang diakibatkan oleh penggunaan plastik sekali pakai, Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) TRUNGKEULAHI-PILM bersama dengan Komunitas Literasi Aku Kamu Saling Rangkul (AKSARA) sukses menggelar kegiatan bedah film dokumenter berjudul “Pulau Plastik” di Café Wajo, Desa Labota, pada Sabtu(14/6/ 2025) malam.

Dengan mengusung tema “Larangan Plastik Sekali Pakai: Solusi Nyata atau Gimik Para Kaum Kapitalis?”, kegiatan ini menjadi ruang diskusi kritis yang membedah persoalan lingkungan dari sudut pandang sosial, ekonomi, dan ekologi. Para peserta yang terdiri dari mahasiswa, Kelompok Swadaya Masyarakat , aktivis lingkungan, berbagai komunitas dan lembaga,serta masyarakat umum, tampak antusias mengikuti jalannya pemutaran film dan diskusi interaktif yang berlangsung setelahnya, kegiatan ini juga dihadiri oleh beberapa narasumber yaitu kang Cecep Supriatna dari lembaga PELITA yaitu lembaga yang bergerak ke arah peduli lingkungan ,dan juga ibu Ariyati Husain dari Kelompok Swadaya Masyarakat Ara Sinergi Berdaya juga sebagai salah satu kelompok yang berkgerak dalam hal pengolahan sampah.

Film dokumenter Pulau Plastik menampilkan fakta-fakta mengejutkan tentang dampak destruktif micro plastik terhadap lingkungan laut, kehidupan manusia, serta bagaimana kebijakan pemerintah turut bermain dalam narasi “solusi” yang kerap hanya bersifat kosmetik.

Ketua MAPALA TRUNGKEULAHI-PILM Gamaliel Prasetio Eke ,menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya ajang tontonan, melainkan ajakan untuk berpikir kritis dan mengambil sikap.

“Kami ingin mendorong kesadaran kolektif bahwa perubahan tidak akan datang hanya dari kebijakan formal, Harus ada gerakan dari bawah yang berkelanjutan serta kesadaran untuk setiap masyarakat akan bahaya micro plastik terhadap keberlangsungan generasi.”ujar Gamaliel Prasetio Eke, Minggu (15/6/2025)

Disaat yang sama Pemantik dari AKSARA kawan Ris Muh Noval Ikhwan menyimpulkan bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban, melainkan tanggung jawab moral yang melekat pada setiap lapisan dari pemerintah hingga masyarakat. Kita semua memiliki peran yang tak tergantikan dalam merawat bumi ini, rumah yang kita tempati bersama. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita bersatu, bergerak selaras dalam kesadaran dan aksi nyata untuk menjaga alam tetap lestari, demi kehidupan hari ini dan generasi esok yang lebih baik,” tandasnya.  (Dian)

editor : Ida

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *