WH.Sukabumi – Di balik peresmian rumah baru bagi keluarga korban kebakaran maut di Kampung Cibodas, Palabuhanratu, Sukabumi, nama komunitas sosial Bagong Mogok menyeruak ke permukaan, menyibak teka-teki sosok polisi misterius yang merengkuh balita Muhammad Arya (3,5) di tengah nestapa.

Bau arang dan kepedihan pekat yang pernah mengendap di tanah perbukitan itu perlahan tersapu angin, berganti dinding bata kokoh yang memeluk kembali sisa-sisa harapan yang nyaris padam.
Tiga bulan silam, jelaga hitam kebakaran merenggut nyawa Elin (33) dan meninggalkan luka bakar di tubuh mungil Arya. Kamis (8/10/2026) kemarin menjadi penanda babak baru saat kunci hunian tersebut resmi diserahterimakan langsung oleh Founder Bagong Mogok, Irjen Pol Asep Guntur Rahayu.
Uluran tangan tanpa pamrih yang bergerak dalam senyap itu rupanya bermuara pada jejaring kerelawanan komunitas tersebut bersama jajaran kepolisian.
Asep menuturkan, denyut kerja kemanusiaan Bagong Mogok di Sukabumi menemukan ritme yang kian padu berkat keterlibatan aktif Kapolres Sukabumi AKBP Benny Cahyadi. Kehadiran pucuk pimpinan kepolisian setempat di dalam keluarga besar komunitas menjadi jembatan respons cepat di lapangan.
“Komunitas ini sebetulnya sudah berdiri lama, awalnya dari Cianjur. Kebetulan saat ini Pak Kapolres Sukabumi berdinas di sini dan ada di komunitas juga, jadi kegiatan di Kabupaten Sukabumi menjadi lebih intens,” ujar Asep di sela peresmian.
Asep lantas menjelaskan bahwa nama unik yang diusung wadah kerelawanan ini memiliki filosofi perlawanan pantang menyerah demi kemanusiaan.
“Bagong mogok itu situasi di mana bagong atau babi buruan terpojok, di situlah dia akan melawan sekuat tenaga. Kami meminjam semangat itu: melawan sekuat tenaga untuk membantu masyarakat. Khususnya mereka yang kekurangan akses pendidikan, ekonomi, hingga yang tertimpa musibah. Ini murni kewajiban kemanusiaan kita untuk saling tolong-menolong,” ungkap Asep memaparkan.
Tak sekadar rumah Arya, jejak komunitas ini di Sukabumi sebelumnya telah menuntaskan perbaikan atap sekolah di Bihbul, Kecamatan Ciemas, hingga rehabilitasi hunian korban kebakaran di Simpenan.
Ketua Umum Komunitas Sosial Bagong Mogok, AKBP (Purn) H. Hilman Muslim, menegaskan bahwa komunitas yang berakar di Tatar Sunda ini murni bergerak atas dasar kepedulian sosial tanpa muatan kepentingan lain.
“Gerakan kami murni aksi sosial kemanusiaan, tidak ada afiliasi politik atau kepentingan apa pun. Di mana ada masyarakat yang tertimpa musibah dan membutuhkan uluran tangan, sebisa mungkin kami hadir untuk meringankan beban mereka,” ungkap Hilman.
Di balik nama perkumpulan yang terdengar tak lazim, Hilman membeberkan adanya pesan moral yang mendalam dengan semboyan Sunda: satekah polah ngabela nu susah.
“Awalnya memang kalau mendengar namanya sedikit menggelitik, tidak lumrah. Tapi ini analogi dari babi hutan yang terpepet tanpa jalan lain, lalu nekat menerjang apa pun di depannya tanpa rasa takut. Semangat itulah yang kami pinjam: nekat dalam membantu masyarakat yang sedang kesusahan,” tuturnya.
Lebih jauh, lambang tersebut justru menjadi cermin perenungan batin bagi para relawan agar terhindar dari rasa jumawa saat mengulurkan tangan kepada sesama.
“Simbol ini pengingat agar kita tidak merasa paling baik. Kita ini manusia pada dasarnya bukan orang baik-baik. Hanya kebetulan saja saat ini aib kita belum dibuka oleh Tuhan. Kalau aib dibuka, kita mungkin jauh lebih hina dari binatang itu. Jadi kami ini bukan orang baik, kami hanya manusia yang sedang mencoba berbuat kebaikan,” tutur Hilman menambahkan.
Gerakan swadaya yang dirintis sejak 2015 di Cianjur ini kini telah merambah ke berbagai pelosok Tanah Air, mulai dari Jakarta, Jawa Tengah, Bali, Lampung, Riau, hingga mendampingi advokasi pekerja migran di Jeddah, Arab Saudi, dengan seluruh pendanaan yang ditopang secara mandiri oleh iuran anggota dan donatur.
Sebelum bangunan baru itu berdiri tegak, kisah Arya berawal dari malam panjang penuh kebuntuan pada awal Juli 2026. Di lorong IGD rumah sakit, Arya yang terluka sempat terkatung-katung belasan jam tanpa kepastian tindakan.
Di titik terendah itulah pertolongan senyap datang: memindahkan perawatan Arya ke ruang VIP RSUD R. Syamsudin SH Kota Sukabumi, mencukupi kebutuhan popok dan susunya, hingga berikrar membangun kembali rumah mereka serta menyiapkan modal usaha agar sang ayah tak perlu lagi merantau jauh.
Kini, janji tersebut tertunai utuh. Tidak ada lagi ratapan di atas abu sisa amukan api. Di balik pintu rumahnya yang baru, tawa riang Arya kembali bersemi, menjadi pengingat teduh bahwa solidaritas dan kemanusiaan yang bekerja dalam senyap selalu mampu memulihkan duka sedalam apa pun.(Nanan Apon)
editor : Ida











