WH.Morowali – Panggung politik Sulawesi Tengah mulai menghadirkan sinyal baru. Ketua PAN Morowali Asfar kini masuk dalam pembicaraan menuju kursi DPR RI setelah aktif mengikuti agenda Rakerda PAN di sejumlah kabupaten di Sulawesi Tengah. Aktivitas tersebut memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan langkah politiknya menuju tingkat nasional.
Asfar tidak menampik munculnya pembicaraan tersebut. Ia justru menyatakan kesiapan mengikuti keputusan partai. “Perjalanan silaturahmi di acara Rakerda PAN di beberapa Kabupaten di Sulteng, menjadi sinyal bahwa saya siap mengikuti instruksi partai,” ucap Asfar, Jumat (11/9/2026).
Selama ini, Asfar memimpin DPD PAN Kabupaten Morowali. Posisi tersebut memberinya ruang untuk membangun komunikasi politik sekaligus memperluas jaringan dengan struktur PAN di daerah. Jika benar diarahkan menuju DPR RI, arena politik yang dihadapi Asfar tentu akan lebih luas karena membutuhkan pengenalan publik dan basis dukungan lintas kabupaten.
Dalam konteks itu, agenda Rakerda memiliki arti lebih dari sekadar kegiatan internal partai. Forum tersebut membuka ruang silaturahmi dengan kader dan struktur PAN dari berbagai daerah sekaligus menjadi kesempatan untuk membaca dinamika serta respons terhadap figur yang berpotensi didorong ke tingkat lebih tinggi.
Morowali sendiri memiliki posisi strategis dalam peta ekonomi Sulawesi Tengah. Pertumbuhan industri dan investasi membuat daerah ini memiliki bobot politik yang semakin besar. Kondisi tersebut dapat menjadi salah satu modal awal bagi figur politik yang ingin memperluas pengaruh, meski basis politik daerah tidak otomatis berubah menjadi dukungan elektoral tingkat provinsi.
Seorang calon DPR RI membutuhkan jaringan yang lebih luas dan basis pemilih yang tersebar. Karena itu, konsolidasi menjadi pekerjaan penting. Bagi Asfar, tantangan tersebut akan menguji kemampuannya membangun jejaring baru sekaligus menjembatani kepentingan politik Morowali dengan aspirasi masyarakat Sulawesi Tengah.
Di sisi lain, PAN membutuhkan figur daerah yang mampu membawa isu lokal ke panggung nasional. Kemunculan figur dari Morowali dapat memberi warna baru dalam konsolidasi partai, terlebih kawasan timur Sulawesi Tengah terus mengalami perubahan sosial dan ekonomi.
Jika peluang tersebut benar-benar terbuka, Asfar tidak cukup hanya mengandalkan popularitas atau posisi politik. Ia perlu menawarkan gagasan yang menyentuh persoalan konkret masyarakat, mulai dari industri, lapangan kerja, ekonomi lokal, infrastruktur hingga pemerataan pembangunan. Dengan demikian, pencalonan tidak berhenti pada persoalan perebutan kursi, tetapi juga menyangkut kualitas representasi politik daerah di tingkat nasional.
Meski sinyal politik mulai muncul, pencalonan Asfar belum menjadi keputusan resmi. Mekanisme internal PAN tetap menentukan arah langkah tersebut, sementara tahapan Pemilu akan menjadi faktor penting dalam proses pencalonan.
Namun, pernyataan Asfar memberikan pesan bahwa ia membuka ruang untuk maju apabila partai memberikan mandat. Situasi ini membuat namanya semakin menarik dalam dinamika politik Sulawesi Tengah. Pertanyaan berikutnya bukan lagi sekadar apakah Asfar akan maju, melainkan seberapa jauh ia mampu mengubah sinyal politik tersebut menjadi kekuatan elektoral.
Jika mandat itu benar-benar diberikan, Asfar harus segera memperluas pijakan politiknya. Langkah dari Morowali menuju Senayan pun berpeluang berkembang dari sekadar isu menjadi salah satu cerita politik menarik dari Sulawesi Tengah.*
(Dian)
editor : Ida











