Dari Cianjur, Bogor hingga Sukabumi, Jejak Kebaikan AKBP Beni Cahyadi Terus Mengalir untuk Umat
WH.SUKABUMI – Jabatan boleh berganti, wilayah pengabdian bisa berpindah, tetapi kepedulian terhadap sesama semestinya tidak pernah berhenti. Itulah gambaran perjalanan pengabdian AKBP Beni Cahyadi, Kapolres Sukabumi, yang dikenal tidak hanya menjalankan tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga aktif hadir membantu masyarakat yang membutuhkan.
Jejak kepedulian tersebut disebut telah dilakukan sejak bertugas di wilayah Cianjur, Bogor, hingga kini mengemban amanah sebagai Kapolres Sukabumi.
Di balik seragam kepolisian dan tanggung jawab besar yang melekat pada jabatannya, terdapat sisi kemanusiaan yang terus berjalan. Mulai dari membantu orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), menyambangi dan memperhatikan warga lanjut usia atau jompo, memberikan santunan kepada anak-anak yatim, hingga membantu pembangunan rumah tidak layak huni (Rutilahu).
Bahkan, jumlah rumah yang telah mendapatkan bantuan perbaikan disebut sudah cukup banyak. Kepedulian itu juga menyentuh kegiatan keagamaan, pengajian, serta pembangunan infrastruktur jalan yang dibutuhkan masyarakat.
Namun, ada satu hal menarik dari perjalanan sosial tersebut. AKBP Beni Cahyadi justru tidak menginginkan setiap kegiatan kemanusiaan yang dilakukannya selalu dipublikasikan melalui pemberitaan maupun media sosial.
Baginya, membantu sesama bukanlah panggung untuk mendapatkan pujian, apalagi sarana membangun popularitas.
“Saya menjadi Kapolres bukan untuk memperkaya diri. Saya sangat setuju dengan slogan Polri, Polisi Bersama Masyarakat. Jabatan ini adalah amanah dan harus bisa memberikan manfaat bagi orang lain,” demikian pesan yang disampaikannya.
Ia juga mengungkapkan alasan mengapa selama ini tidak terlalu menginginkan kegiatan sosialnya diangkat menjadi berita atau ramai di media sosial.
“Kenapa dari dulu saya tidak mau kegiatan seperti ini di-up melalui berita maupun media sosial? Karena saya merasa tidak perlu semuanya diketahui orang. Cukup Allah SWT yang mengetahui apa yang kita lakukan. Kalau kita bisa membantu orang lain, lakukan saja dengan ikhlas,” ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa nilai sebuah kebaikan tidak selalu diukur dari seberapa banyak orang yang menyaksikan, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh mereka yang menerima pertolongan.
Di tengah masyarakat, kepedulian semacam ini juga mendapat perhatian dari tokoh masyarakat Pajampangan, H. Yudi Pratama, yang dikenal dengan sapaan Peci Merah.
Menurut H. Yudi Pratama, berdasarkan apa yang diketahuinya, AKBP Beni Cahyadi merupakan sosok yang cukup sering memberikan perhatian dan bantuan kepada masyarakat, termasuk di wilayah Pajampangan.
“Dari yang saya tahu, orang yang sering membantu umat dan masyarakat seperti Pak Beni Cahyadi ini memang patut kita apresiasi. Beliau tidak hanya memperhatikan persoalan keamanan, tetapi juga peduli terhadap kebutuhan masyarakat. Mulai dari membantu kegiatan pengajian, pembangunan jalan, hingga berbagai kebutuhan sosial lainnya,” ujar H. Yudi Pratama.
Ia menilai, kepedulian seorang pejabat terhadap masyarakat tidak harus selalu diwujudkan melalui hal-hal besar. Kehadiran, perhatian, dan kesediaan membantu ketika masyarakat mengalami kesulitan merupakan bentuk pengabdian yang memiliki arti tersendiri.
“Saya melihat sendiri bagaimana bantuan dan kepedulian itu dirasakan masyarakat. Bagi saya, ketika ada orang yang mau meluangkan waktu, tenaga, bahkan membantu secara materi untuk kepentingan umat, tentu itu sesuatu yang patut dihargai. Semoga kepedulian seperti ini terus berlanjut,” tambahnya.
Jabatan Adalah Amanah, Kebaikan Adalah Jejak yang Tertinggal
Perjalanan AKBP Beni Cahyadi memberikan gambaran bahwa tugas seorang polisi tidak hanya berhenti pada penegakan hukum, patroli, maupun menjaga keamanan wilayah. Ada tanggung jawab kemanusiaan yang juga dapat dijalankan dengan merangkul masyarakat, mendengarkan kesulitan mereka, serta hadir memberikan pertolongan.
Sebab, bagi masyarakat kecil, sebuah rumah yang kembali layak dihuni, bantuan untuk anak yatim, perhatian kepada orang tua yang hidup sebatang kara, atau jalan yang akhirnya bisa dibangun bukanlah perkara sederhana. Semua itu bisa menjadi harapan baru bagi kehidupan mereka.
Pada akhirnya, manusia mungkin tidak selalu mengingat setiap kata yang pernah diucapkan, tetapi kebaikan yang pernah dirasakan akan selalu memiliki tempat tersendiri di dalam hati.
Ada orang yang berbuat baik agar namanya dikenal. Namun, ada pula yang memilih bekerja dalam diam, tanpa tepuk tangan dan tanpa sorotan kamera.
(Nanan apon)
Editor : Ida
